Our History

Cinta: Masa Lalu, Saat Ini dan Kemudian

How would you define love? I prefer not to define it with any words… Love is just love. You can feel its sensations, but you can’t really define it. Sometimes, you feel anger, jealousy, and even selfishness along with love. Another time, you feel passion, tolerance, respect, patient and others…  Perhaps, that’s why we find it difficult to write about love.  But, we do love being loved and do love to love…  In our story (my husband and I), we were not really ‘falling’ in love. I think, our love just grows by itself from the time we were united in a marriage…  Until now and beyond, we hope that our love will keep grow stronger, and stronger, and stronger…

***

Kalau sedang memandang suami, kadang saya sering ‘heran’ sendiri. Saya heran, bagaimana kami bisa bertemu dan pada akhirnya hidup bersama. Saya pernah bilang beberapa kali pada suami, bahwa saya heran kalau pada akhirnya saya menikah dengannya (heheee… :D). Suami selalu menjawab, bahwa itu terjadi hanya karna kami berjodoh, dengan gaya sambil menggoda.

Sebenarnya, yang membuat saya heran ialah karakter kami yang cenderung berbeda (kalau diukur-ukur, belum sampai 180 derajat sih  :D). Dan kalau diingat-ingat selintas, karakter yang dimiliki suami berbeda dengan daftar karakter ‘ suami impian’ yang pernah saya buat sewaktu saya single dulu (heheee… wajar lah ya! :D). Nobody is perfect, and indeed that’s true! Daftar karakter ‘suami impian’ yang saya buat memang sempurna menurut ukuran saya. Namun, bagaimanapun juga, rencana Allah jauh lebih, lebih, dan lebih sempurna dari ukuran ke-manusia-an saya. Saya merasakan, bahwa hingga saat ini suami banyak ‘menambal’ kekurangan-kekurangan saya dan bahkan membuat saya menjadi lebih ‘sempurna’.

Pertemuan pertama kami just ordinary. Kami bertemu pertama kalinya di suatu diskusi dan presentasi ilmiah PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Delft, Belanda. Saat itu, saya, yang sedang belajar di Jeddah, Arab Saudi, mendapatkan kesempatan magang riset di salah satu universitas di Delft selama musim panas. Sebagai mahasiswa baru di Delft, saya ikut bergabung dalam beberapa aktivitas PPI dan berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswi di sana, termasuk suami. Pada awalanya, kami hanya lah berkenalan sebatas nama dan studi. Setelah itu, pertemuan-pertemuan lainnya pun terasa  biasa-biasa saja.

Eh… Ternyata, bagi suami, saya mencuri perhatiannya (bagian ini semata-mata hanya pendapat pribadi saya, heheee… :D). Kebetulan, suami kenal dengan dosen saya sewaktu saya kuliah di UI (Universitas Indonesia) Depok dahulu. Saat itu, dosen saya sedang melakukan studi post-doctoral nya di universitas yang sama dengan suami. Melalui dosen saya itulah, kami diperkenalkan untuk ‘tujuan dan maksud tertentu’ (ed: menikah).  Perkenalan kami pun berjalan singkat, hanya satu bulan. Karna saat itu suami kembali ke Indonesia untuk berlibur; kami berkenalan, bertukar pendapat, berbagi pengalaman hanya melalui email.  Setelah habis masa berliburnya, kami bertemu lagi di Delft. Pada saat itulah, secara tidak langsung suami menyampaikan ‘lamaran’nya. Selanjutnya, Bismillah… Dengan memohon ridhoNya, kami pun memutuskan untuk menikah. 🙂

Enam bulan berikutnya, 5 Januari 2011, kami menikah. Teman saya menyebut pernikahan kami dengan Winter Wedding (haduuuh, gaya ya? kayak artis aja, heheee… :D). Disebut demikian karna kami menikah saat musim dingin di Den Haag, Belanda. Sebenarnya, bukan impian saya lho untuk menikah di luar negeri. Karna beberapa pertimbangan yang kami yakini kebaikannya, akhirnya kami menikah di sana. Meskipun tanpa dihadiri kedua orangtua kami dan sanak famili, pernikahan kami merupakan sesuatu yang saya syukuri hingga saat ini. Berbeda dengan pernikahan di Indonesia, saya rasa pernikahan kami sederhana.  Tak ada prosesi acara, pelaminan, rangkaian bunga, atau dekorasi ruangan yang memberi kesan ‘wah’.  Saya dan suami bahkan tidak memakai gaun pengantin adat dengan segala pernak-perniknya. Saat itu, saya memakai gamis pengantin berwarna putih dengan make up seadanya hasil kreasi teman-teman, sementara suami memakai setelan jas berwarna biru tua. Saya dan suami lah yang mempersiapkan buku tamu, kotak sumbangan, dan undangan pernikahan sendiri. Bahkan, saya sempat menjahit gamis pengantin yang kepanjangan dan menyetrikanya sendiri. Meja dengan taplak dan karpetnya disediakan dari masjid tempat kami menikah, bekas pernikahan pasangan Indonesia sebelumnya.  Kami pun hanya menggunakan jasa MC dan fotografer dadakan dari teman-teman kami. Everything is simple but extraordinary! (heheee… :D)

Semua persiapan pernikahan dilakukan bersama-sama, mulai dari penataan ruang hingga hidangan untuk walimahnya. Suami sempat membantu mengangkat meja-meja untuk akad dan pembatas hijab antara tamu laki-laki dan perempuan.  Dekorasi sederhana dengan menggunakan kain batik dan mawar putih disiapkan oleh beberapa ibu. Beberapa ibu lainnya  secara sukarela membantu menyiapkan hidangan walimah sehari sebelumnya. Ada seorang ibu yang memasak nasi kuning, ibu lainnya memasak rendang, ada yang memasak urap sayur, dan lain-lainnya untuk walimah kami. Saya sendiri pun sempat membantu membungkus kue kecil. Alhamdulillah… segala puji bagi Allah swt. Saat itulah, saya benar-benar merasakan hikmah ukhuwah dan silaturrahim. Mesti di rantau, kami menemukan arti kesederhanaan dan persaudaraan. Mungkin, di situ lah barakahnya. (Aamiin :))

Sejak pernikahan itulah, kami baru benar-benar mengenal satu sama lain. Dan sejak saat itulah, kami tanam dan tumbuhkan rasa cinta. Baru satu tahun, kami berjalan bersama. Selama satu tahun itu pula, kami sudah merasakan ups and downs hidup berumah tangga. Long distance relationship selama tahun pertama pernikahan kami juga menambah hikmahnya sendiri. Dari setiap lika-liku yang saya hadapi, saya bersyukur bahwa suami saya dengan segala karakternya lah yang siap untuk berada di samping saya. Suatu waktu, saya dibuat terharu dengan kesabarannya menghadapi kekurangan saya. Di lain waktu, saya dibuat merasa spesial dengan rasa sayangnya. Pada akhirnya, saya menemukan jawaban mengapa Allah swt mempertemukan saya dengannya. Alhamdulillah…

Entah berapa tahun lagi kami akan berjalan bersama mengarungi  kehidupan rumah tangga ini. Namun, saya sungguh berharap bahwa rasa sayang dan cinta di antara kami akan selalu ada, bahkan tumbuh semakin kuat. Tidak lagi dengan romantika pengantin baru tentunya. Namun, dengan kematangan kami masing-masing sebagai suami dan istri, dengan bahasa cinta yang semakin mendewasakan kami.  Aamiin…

P.S.: Thank and love you, my dear hubby!

Delft, 22 April 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s