Journey into Motherhood

Maafkan Kami ya, Baby…

Pertama kali mengetahui kehamilan saya rasanya luar biasa. Just like had a blast! (hehee… lebay ya? tapi serius lho…).  Sebelumnya, saya sudah melakukan tiga kali pregancy home test dengan menggunakan test-pack. Semua test-pack tersebut hasilnya negatif. Namun, entah kenapa, I got a strong feeling that I am pregnant (perhaps, a mom nature… hehee… :D). Karna dorongan naluri ibu lah saya mengambil test-pack ke-empat, dan voilà!  hasilnya positif! Saya pun sujud syukur karna Allah swt mengabulkan permohonan kami berdua. 🙂

Mengetahui saya hamil rasanya sungguh luar biasa, lebih ‘wow’ daripada ketika dilamar atau ketika akad nikah diucapkan (hehee… sorry ya hubby!). Apalagi ketika mengetahui bahwa ada makhluk kecil yang tumbuh di dalam rahim ini. Ketika melihat perubahan tubuh hari demi hari… Merasakan detak jantung dalam rahim… Subhanallah! Saya takjub dengan penciptaanNya. Namun… Tak lama setelahnya, saya merasa perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, saya bersyukur dan bahagia. Di lain sisi, mulai lahir rasa kuatir satu demi satu. Sehat ga ya bayiku? Sudah bersikap baik ga ya sebagai calon ibu? Sudah bisa memberi teladan ga ya? Eeeh… Belum baca buku-buku parenting padahal sebentar lagi punya baby! Wah, tiba-tiba banyak hal-hal yang membuat saya kuatir. Huuuff…

Meskipun hal-hal yang saya kuatirkan normal,  jujur, saya merasa takut akan timbang-timbangan nanti di akhirat jika saya  dan suami tidak bisa mempersiapkan hal-hal yang tebaik dalam mendidik anak ini nantinya. Mendidik dan membesarkan anak ialah amanah yang sangat besar. Meskipun Allah swt menjanjikan balasan yang sepadan dengan tanggung jawab yang ditanggung (bahkan lebih besar lagi…), rasanya tetap saja deg-degan. Banyak persiapan dan keputusan yang harus diambil, dan semuanya itu akan dipertanggungjawabkan kelak.  Bukan hanya untuk pertanggungjawaban di akhirat, namun saya ingin benar-benar menjaga agar tidak ada hal yang akan mendurhakai anak ini nantinya. Seperti yang disampaikan dalam suatu kisah…

Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab ra. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?”. “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan. Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur’an). Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

Mendurhakai si anak sebelum anak mendurhakai orangtuanya. Berarti, besar bukan amanah sebagai orang tua? Pilihan dan keputusan buruk yang dibuat jaaauuuh bahkan sebelum si anak dilahirkan ke dunia bisa jadi membuat kita sudah mendurhakai si anak. Hiks! 😥

Saya teringat… Hal  sederhana. Suatu hari, seorang teman mem-post pro dan kontra vaksinasi yang sedang terjadi di Indonesia di Facebook. Langsung, saya teringat bayi dalam kandungan yang insyaAllah dalam beberapa bulan ke depan, mungkin, akan divaksinasi. Saya sadar betapa sedikitnya ilmu yang saya ketahui tentang hal ini. Dari beberapa jenjang pendidikan yang saya peroleh, saya sedikit banyak mengetahui hal-hal teknis. But, I give up for several basic sciences, including immunology. Akhirnya, saya browse artikel-artikel mengenai fatwa hingga kesehatan bahkan jurnal ilmiah mengenai vaksinasi untuk mengetahui positif negatifnya vaksinasi. Saya bagi informasi yang saya peroleh sekaligus rasa kuatir yang saya rasakan kepada suami. Jika nantinya, insyaAllah, bayi ini akan dilahirkan di Belanda, pada dasarnya kami tidak mempunyai pilihan untuk tidak menvaksinasi bayi ini. Vaksinasi merupakan kewajiban di sini. Namun, saya ingin memberikan pilihan yang sesuai haknya. Meskipun dalam hal yang sederhana. Pilihan yang baik. Saya kuatir membuat pilihan atau keputusan yang akan mendurhakainya. Ketika menceritakan hal ini kepada suami, tak terasa saya menangis… Bukan hanya kurangnya ilmu, namun karna setiap keputusan dan pilihan yang kami ambil untuk anak ini nantinya pasti akan dipertanggungjawabkan. Hiks!  😥

Alhamdulillah, suami bisa memberikan perncerahan dan menenangkan (like what he always does… :)). Kami hanya bisa melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kami miliki. Dengan kemampuan kami. Hanya itu. Saya sadar, selama nyawa masih dikandung badan, kami akan selalu belajar, termasuk halnya belajar menjadi orang tua. Sisanya, kami hanya bisa berdoa dan tawakal. “Ya Allah… Berikanlah kami kemampuan agar kami dapat mendidik anak ini menuju jalan yang Engkau ridhai… Aamiin”.

***

O, baby, please apologize us, sweetheartfor any wrongs that we do to you in our journey as parents. Just always keep in your mind, honey, that we love you… We do love you… :*

Delft, 1 May 2012

***

Update (Ditulis tanggal 25 Maret 2013)

Setelah melahirkan, barulah saya tahu, bahwa vaksinasi bukan-lah kewajiban di Belanda. Seorang anak tetap bisa bersekolah meskipun tidak divaksinasi. Pada akhirnya, pilihan masing-masing. Namun, saya bersyukur membuat pilihan yang tepat untuk si kecil, insyaAllah 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s