Journey into Motherhood

Pengalaman Kehamilan Pertama di Belanda: Screening Test

Lain Indonesia, lain Belanda. Tentu saja, banyak hal baru yang saya temui dan alami di sini. Orang, budaya, lingkungan, hingga urusan kehamilan dan melahirkan. Saya memang belum pernah merasakan hamil di Indonesia. Di sini lah, kehamilan pertama saya. Berdasarkan pengalaman saya selama empat bulan pertama, saya merasa bahwa treatment kehamilan di sini terkesan alami.

Urusan kehamilan hingga melahirkan merupakan domain khusus bidan, dalam bahasa Belanda disebut verloskundigen. Sejauh yang saya ketahui, dokter rumah (general practitioner) atau gynecologist tidak menangani kehamilan atau melahirkan secara langsung, kecuali jika ada kasus khusus misalnya, ada record keguguran atau hal lainnya. Jadi, hanya verloskundigen lah yang tahu sejarah kehamilan kita sejak awal hingga bayi dilahirkan. Unik ya? 🙂 Jangan membayangkan bidan-bidan di Indonesia zaman dahulu ya (hehee… :D). Bidan-bidan di sini sangat terlatih dan memiliki klinik dengan fasilitas yang lengkap, hingga urusan USG (ultrasonography) pun langsung ditangani bidan.  Keuntungannya bagi saya, saya tidak perlu repot-repot cari dokter wanita seperti halnya di Indonesia, karna bidan di sini pada umumnya ialah wanita (hehee… :D).

Selama ini, saya tidak pernah menemukan atau mendapatkan saran-saran khusus selama kehamilan . Saya tidak menemukan susu formula khusus untuk ibu hamil. Saya hanya mengkonsumsi susu segar kemasan seperti hari-hari sebelumnya. Saya juga tidak mendapat larangan macam-macam selama masa awal kehamilan dari versloskundigen. Tidak ada larangan untuk berjalan-jalan atau pun bersepeda. Bahkan, beraktivitas rutin lebih dianjurkan. Dari beberapa ibu Indonesia, pada umumnya saya mendapat wanti-wanti untuk tidak sering jalan-jalan selama tiga bulan pertama. Karna verloskundigen tidak menyarankan demikian, saya cenderung cuek untuk tetap bersepeda dan jalan-jalan (pada dasarnya sih memang keras kepala, hehee… :D).

Menurut saya, penggunaan teknologi selama kehamilan pun terbilang hati-hati. Selama sembilan bulan ke depan, USG yang dilakukan oleh verloskudigen hanya tiga kali yaitu pertama, saat mengetahui kehamilan untuk memastikan bahwa pasien hamil dan kehamilan terletak di rahim, kedua, pada usia kehamilan sekitar sebelas sampai dua belas minggu untuk menentukan usia janin dan due date,  dan terakhir, pada usia kehamilan tiga puluh minggu untuk menentukan posisi bayi. Hanya itu. Saya tidak tahu pasti apa pertimbangan medisnya. Mungkin, penggunaan USG dibatasi untuk mencegah efek negatif jangka panjangnya, meskipun sejauh ini saya belum pernah membaca atau menemukan artikel yang membahas hal tersebut. Atau mungkin, semata-mata hanya untuk menghindari kerepotan (hehee… :D).

Saya menemukan kehati-hatian yang sama dalam hal screening test (tes untuk mengetahui indikasi cacat pada janin yang terdiri dari down syndrome (kurang lebih pada usia kehamilan sebelas minggu) atau cacat fisik/organ (kurang lebih pada usia kehamilan dua puluh minggu)) . Pada kunjungan saya yang pertama, verloskudigen menjelaskan secara ringkas screening test tersebut beserta konsekuensi-konsekuensinya. Sebenarnya, saat itu saya agak kaget karna langsung mendapatkan penjelasan tersebut. Saya kira ada keganjalan dengan kehamilan saya. Ternyata, hal ini sudah umum ditawarkan pada kunjungan pertama karna tes ini dilakukan oleh lembaga lainnya. Saat itu, verloskudigen menekankan bahwa melakukan screening test sepenuhnya ialah hak saya dan suami. Verloskundigen juga menyarankan, jika saya mengambil tes ini dan mengetahui hasilnya, saya (tepatnya, saya dan suami :D) harus siap dengan suatu keputusan. Dengan berbekal brosur yang diberikan oleh verloskudigen, kami harus siap memutuskan pada kunjungan berikutnya.

Sebenarnya, pada saat screening test dijelaskan, seketika, saya teringat pertanyaan seorang teman, “Menurut pendapat Eki, gimana menggugurkan janin yang cacat??”. Saya mendapat pertanyaan itu setahun yang lalu, di sela-sela makan siang bersama teman-teman, saat saya masih berada di KAUST.  Pada saat itu, sejujurnya, saya tidak ingin menjawab atau berpendapat. Selain menyangkut kaidah fiqh, saya hanya merasa belum siap untuk menjawab. Saat itu, saya masih dibayang-bayangi urusan thesis dan defense yang berlangsung beberapa saat lagi (belum sempat mikirin sampai ke anak soalnya, hehee… :D).

Hanya ada dua hasil yang mungkin kami peroleh dari screening test: positif adanya indikasi cacat atau negatif. Pada awalnya, saya ingin mengambil kedua tes  for nothing to lose. Tapi kemudian, suami tidak mengizinkan saya mengambil tes untuk down syndrome karna beberapa pertimbangan. Pertama, kami pada dasarnya sepakat bahwa tidak ada pilihan menggugurkan kandungan hanya karna adanya justifikasi bahwa janin cacat, kecuali jika memang kondisi kandungan membahayakan nyawa saya sendiri. Kedua, screening test untuk down syndrome, yang saya ketahui, sedikit banyak melibatkan statistik. Rasanya, tidak benar ya jika ada keputusan mengugurkan nyawa berdasarkan hitung-hitungan statistik??

Sebenarnya saya kurang lega dengan pertimbangan suami (sampai-sampai sempat ngambek.. hehee.. :D).  Toh tidak ada yang salah untuk tahu kondisi janin kan? Tapi, perlahan… Saya mengerti. Urusan ini tidak sepenuhnya hanya nothing to lose. Kami harus siap dengan berbagai kemungkinan, termasuk yang terburuk. Dari beberapa pengalaman yang kami ketahui, berada dalam kondisi terburuk tidak semudah yang dibayangkan. Dan kami tidak ingin terjerumus mengambil keputusan yang keliru. Lagipula, apakah hasil tesnya benar-benar representatif menggambarkan kondisi sebenarnya? Saya percaya bahwa ada dasar ilmiah dan valid yang mendasari hasil tes tersebut. Tapi, toh itu hanya perhitungan manusian kan? Siapa yang tahu kondisi yang sebenarnya selain Allah swt? Siapa yang tahu kondisi terbaik selain Allah swt? No one. Allah Maha Mengetahui sementara manusia tidak mengetahui. Hmmm… Dalam kasus ini, rasanya anekdot yang berbunyi “Technology can bring some joys, but it can bring worries too” rasanya tepat ya? (hehee… :D).
P.S.: Menulis sambil sesekali mengelus-elus perut, “Baby… tumbuh yang sehat ya, nak… Ama dan baba sayang baby!” :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s