Random Notes

Nasionalisme Seorang WNI Kelahiran Belanda

Dari kejauhan, saya mengenali sosok laki-laki itu sebagai orang Indonesia, atau paling tidak, orang Asia. Sore itu, saya sedang berjalan pulang setelah membeli sirup untuk batuk di apotek yang hanya berjarak 1 km dari apartemen saya, sambil menikmati sore yang ‘hangat’ di musim semi (10 derajat C setelah musim dingin lumayan hangat lho… hehee… :D). Karna ia laki-laki, saya bersikap cuek, apalagi dengan laki-laki yang belum saya kenal (maksudnya, sekalian jaga pandangan gitu… hehee… ). Setelah lebih dekat dan berpapasan, saya melihat lagi laki-laki itu, kuatir kalau ternyata saya kenal dengannya dan bersikap sombong. Ternyata, laki-laki itu menyapa saya lebih dulu, dan ketika melihat wajahnya, saya ingat siapa dia.

Ya, dia adalah laki-laki yang saya temui tahun 2010 yang lalu, ketika saya melakukan short visit ke Delft. Ah! What a small world!  Saya tidak menyangka kalau bisa bertemu lagi dengannya. Even though, I don’t have any kind of special feeling to this guy, just to be clear, but that meeting gave me a very good impression about him… This story will tell you why…

***

Dua tahun yang lalu, saya bertemu dengannya di suatu toko swalayan Turki yang menjual daging halal (namanya Ozhalk, every moslem who lives in Delft, I guess, know it! :D). Saat itu, saya sedang memilih-milih buah segar. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang sedang bersepeda, memboncengi bocah laki-laki bule, berhenti mendekati saya. Dalam hati, saya merasa aneh. Laki-laki itu berwajah Asia, menurut saya cukup tampan (hehee…), dan berkulit kuning langsat, sementara si bocah terlihat jelas memiliki darah Belanda karna berambut pirang. Si laki-laki tersebut kemudian turun dari sepedanya bersama dengan bocah kecil itu dan selanjutnya menyapa saya, “Orang Indonesia ya?“. Pengucapan bahasa nya terdengar agak aneh di telinga saya.  Namun, saya tetap menunjukkan keramahan ‘khas’ Indonesia dan menjawab, “Iya”. Kemudian, terjadi percakapan singkat mengenai kunjungan saya dan mengenai pria itu. Ia mengatakan bahwa ia orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Belanda, dan ia senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia di sini. Si bocah bule itu ternyata adalah anaknya. Meskipun si bocah tidak bisa berbahasa Indonesia fasih, laki-laki itu meminta si anak untuk menyalami dan mencium tangan saya. Anak itu turun dan menyalami sambil mencium tangan saya, seperti anak-anak Indonesia yang bertemu dengan orang dewasa di Indonesia. Wah, saya kagum, laki-laki itu ternyata melestarikan kebudayaan demikian di sini, paling tidak dengan sesama orang Indonesia. Padahal, secara umum, mencium tangan adalah hal yang aneh di sini. Kusje (bahasa Belanda dari kiss) adalah hal normal yang saya temui ketika orang tua maupun muda bertemu. Ciuman pipi atau bibir adalah sapaan khas orang Belanda. Setelah si bocah mencium tangan saya, mereka berdua berpamitan pergi.

Setelah pertemuan dengan laki-laki itu, selama beberapa minggu kemudian saya tinggal di Belanda, saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Suatu kebetulan, dua tahun kemudian, saya bertemu kembali dengannya. Sore itu, ia tidak bersama si bocah. Saya rasa, ia sedang berjalan pulang dari swalayan dekat apartemen. Ketika berpapasan dan ia menyapa saya, spontan, otak saya memanggil memori pertemuan dengan laki-laki ini dua tahun yang lalu. Saya membatin, ya Allah, ini kan laki-laki yang waktu itu! Ingat kah ia dengan saya? Meskipun ia tidak ingat dengan saya, namun tidak ada yang berubah dengan keramahannya.

Ia kembali menyapa saya dan menanyakan tentang saya; siapa, apa yang saya lakukan di sini dan di mana saya tinggal. Saat itulah, saya baru tahu, bahwa pria itu lahir dan besar di sini. Kedua orangtuanya adalah orang Indonesia, tepatnya dari Kebumen, mungkin datang sekitar tahun 70-an. Sayangnya, mereka sudah tiada, dan si laki-laki itu, sepertinya, hanya sedikit memiliki kerabat Indonesia di sini. Ia fasih berbahasa Indonesia karna ibunya tidak bisa berbahasa Belanda, dan selalu menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia di rumah. Satu hal yang mencolok yang saya perhatikan darinya ialah pin kecil bendera Indonesia yang ia kenakan di kerah jaketnya (OMG! :D) Hal lainnya, ia juga sangat bersemangat memberitahu bahwa dirinya ialah orang Indonesia.

Pertemuan-pertemuan dengannya membuat saya berpikir sepanjang perjalanan pulang. Saya kagum dengannya, sekaligus malu. Ketika saya menceritakan tentang laki-laki ini kepada suami saya, suami saya pun merasakan hal yang sama seperti saya. Laki-laki itu bangga dengan ke-Indonesia-annya. Apakah ia tidak tahu kondisi di Indonesia saat ini seperti apa? Atau, bagaimana tanggapan masyarakat dunia tentang Indonesia? Ah, kalau melihat kondisi ‘real’ yang terjadi di Indonesia, rasanya, jujur, saya sendiri masih cenderung malu dengan tanah air saya. Kalau, bangga? Hhhmmm.. Mungkin saya akan mencari jawaban yang ‘diplomatis’ (Hiks! 😥 ). Keramahannya juga membuat saya segan. Kalau saya bertemu dengan orang Indonesia, sejauh ini, saya bersikap cuek, meskipun ia adalah seorang wanita. Nah, sementara si laki-laki itu sangat ramah ketika bertemu dengan orang Indonesia. Terpikir pula oleh saya, bagaimana nantinya saya bisa mendidik si baby untuk mencintai tanah airnya meskipun ia nantinya akan lahir di sini (insyaAllah…). Ah, saya malu…

***

From those meetings, he has given me some thoughts and a good example on how to love our beloved country, although in a very simple way…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s