Journey into Motherhood

Pengalaman Kehamilan Pertama di Belanda: Rhesus Incompatibility

Rhesus incompatibility?! Saya baru akrab dengan istilah ini pada minggu ke-26 kehamilan saya (ke mana aja ya si ibu ini?? hehee..). Meskipun kalau diingat-ingat lagi, saya rasa saya pernah belajar mengenai hal ini di kelas Biologi jaman SMA dahulu. Setelah browsing dan mencari informasi di situs-situs kehamilan, barulah jelas bagi saya definisi dan urgensi dari  istilah yang awalnya asing ini 😀

***

Pada kunjungan ke bidan pada minggu ke-26, bidan meminta saya mengunjungi RS untuk mengambil sample darah. Si bidan itu menyebut-nyebut soal rhesus saya dan kenapa saya diminta untuk tes darah lagi sambil memberikan sebuah brosur berbahasa Belanda. Sepulangnya dari bidan, saya masih belum ngeh kenapa saya diminta untuk melakukan tes darah lagi. Dari informasi yang bidan saya berikan, ada hal yang belum saya pahami dengan baik (haduh…) Dengan bekal brosur, internet, dan google translater , akhirnya saya tahu kalau golongan darah saya (golongan AB dengan Rhesus negatif) memiliki potensi Rh incompatibility dengan baby.

In short, kita mengenal beberapa golongan darah, yang pada umumnya dikenal ada empat golongan berdasarkan sel darah merahnya, yaitu; golongan darah A, B, AB dan O. Selanjutnya, di sel darah merah yang khas itu, ada jenis sel yang memiliki protein di dinding selnya (yang selanjutnya disebut dengan Rhesus (Rh) positif) dan ada yang tidak memiliki protein di dinding selnya (yang selanjutnya disebut dengan Rhesus (Rh) negatif). Jika seorang wanita dengan Rh negatif mengandung dan janin yang dikandung memiliki Rh positif (karna gen dari pihak ayah), akan mungkin terjadi ketidakcocokan Rh antara ibu dengan janin bayi. Selanjutnya, karna Rh janin diidentifikasi sebagai sesuatu yang asing (karna berbeda jenisnya) dalam tubuh ibu,  tubuh ibu akan memproduksi antibodi yang bisa menyerang darah janinnya (hiii… seram ya?!)  Selama browsing-browsing, saya baru tahu kalau ternyataketidakcocokan Rh tersebut dapat mengakibatkan keguguran, terutama pada pekan-pekan awal kehamilan. Selain itu, jika antibodi si ibu menyerang janin karna adanya kontak darah (misalnya, pada saat melahirkan), si bayi bisa terserang penyakit kuning (jaundice) dengan level of severity dan akibat yang beragam (huhuu.. seram.. kasihan baby.. :()

Nah, tes darah yang kedua ini akan menunjukkan apakah ada antibodi yang bisa menyerang darah baby atau tidak dalam darah saya. Jika iya, saya akan diberikan suntikan berupa plasma darah – bukan vaksin (yang dikenal dengan Rhogam, Rhesus-imunoglubin, kalau saya tidak salah ingat) pada usia kehamilan ke-30 atau ke-31 dan pada 48 jam setelah saya melahirkan baby nantinya; tujuannya, untuk ‘mematikan’ antibodi di tubuh saya agar tidak menyerang darah bayi. Jika tidak ditemukan adanya antibodi, at leastbaby yang saya kandung aman pada kehamilan kali ini. Lalu, bagaimana hasil tes darahnya? Pada minggu ke-29, bidan memberikan hasil tes darah saya dan (tadaaa..) alhamdulillah, tidak ada indikasi saya memiliki antibodi tersebut (haaah.. legaaa… :D)

Iseng-iseng dengan maksud klarifikasi, saya mencoba tanya teman, yang usia kehamilannya sama dengan saya, mengenai Rh incompatibility dan bagaimana penanganannya di Indonesia. Teman saya bilang, umumnya di Indonesia, yang dicek adalah golongan darah, bukan Rhesus. Golongan darah tertentu (misalnya, golongan darah A) diidentifikasi aman.  Ehmm.. Saya belum mengerti benar kenapa yang dicek ialah golongan darah bukan rhesus. Apa umumnya golongan darah AB atau O yang punya rhesus negatif?! Dunno exactly.

Anyway, alhamdulillah, saya mendapat informasi mengenai Rh incompatibility dan resiko penyakit kuning pada bayi lebih awal, dan alhamdulillah, penanganannya di sini juga baik. Tidak terbayang jika saya mengetahui hal ini belakangan atau baru tahu mengenai hal inimisalnya, ketika baby terserang jaundice (na’udzubillah..). Saya pasti akan sedih. Saya justru sempat berpikir, bagaimana kalau nantinya hamil di Indonesia dengan penanganan yang berbeda dengan di sini?! (haaah…) Allahu’alim ya.. 🙂

Iklan

4 thoughts on “Pengalaman Kehamilan Pertama di Belanda: Rhesus Incompatibility

  1. Iya, Eki.. di Jeddah juga..
    aku ditanyai dokter : Golongan darah apa?
    kujawab : O
    Dokter : O apa?
    Aku : ???

    dokternya heran, padahal itu penting sampe ga tau.. belakangan aku tahu aku O+ dan itu normal…

    hehe.. di Indonesia kebanyakan ga perhatian dgn ini ya..

    • di Jeddah juga ya Son? Good to know… 🙂
      iya ni, di Indonesia belum smua perhatian dengan ini ya sepertinya, padahal efek-nya signifikan yaaa…

  2. di Indonesia udah kok 🙂
    tergantung periksa di mana kali ya…kalo di RS udah dicek,
    bahkan jaundice gak cuman dr beda rhesus, beda golongan darah ABO jg bisa 🙂

    golongan darah saia O positif, kan di kartu2 cek goldar dari puskesmas aja ada keterangan rhesusnya juga 🙂

    • Alhamdulillah… Aku tanya teman-temanku yang seangkatan hamil, katanya belum ada, sepertinya memang karna RSnya yaaa…

      Aku pernah cek gol. darah di puskesmas juga Jeng, dan donor darah, awalnya gol. darahku dicek A, trus B, dan akhirnya ditelpon sama PMI Pusat untuk mengklarifikasi, setelah itu baru ketauan kalau gol. darahku AB… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s