Parenting Notes

Hikmah Keluarga Luqman

Catatan mengenai hikmah keluarga Luqman ini saya dapatkan dari Eramuslim.com. Sebenarnya, ada beberapa seri tulisan mengenai hikmah keluarga Luqman di situs tersebut. Di sini saya gabungkan beberapa seri tersebut dengan sedikit tambahan dan perubahan dari saya sendiri. Sengaja saya simpan serial hikmah keluarga Luqman di sini karna bagus untuk dijadikan catatan parenting, terutama untuk kami sendiri 🙂

***

Kisah Luqmanul Hakim sangat popular dalam dunia Islam karena nasehat-nasehatnya yang penuh dengan hikmah. Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai asal-usul Luqman. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan, ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat bahwa ia berasal dari Sudan. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Luqman adalah seorang hakim di zaman Nabi Daud as.

Pada hakikatnya, nasehat-nasehat Luqman merupakan bentuk pendidikan seorang bapak kepada anaknya serta wujud kasih sayang agar kelak seorang anak tidak berbuat hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. (Bagi kami, nasehat-nasehat Luqman merupakan pengetahuan dan bekal bagi kami dalam mempersiapkan diri dalam menjalankan amanah pendidikan terhadap anak yang diberikan oleh Allah swt (inshaAllah..)). Tanggung jawab dan amanah pendidikan anak ini sesungguhnya amat besar.

Disebutkan dalam QS At Tahrim: 6

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Selain itu, dalam sebuah HR Bukhari dan Muslim

“…Dan seorang wanita (istri) adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya itu..”

Dalam hadist-hadist lainnya, Rasulullah saw menyatakan keutamaan dalam mendidik anak.

HR At Tirmidzi:

“Seseorang yang mendidik anaknya itu lebih baik daripada bersedekah satu sha” (ed: sha’=gantang)

 HR At Tirmidzi:

“Seorang ayah tidak pernah memberi kepada anaknya sesuatu yang lebih baik dari pada adab yang mulia”

Selain ayat dan hadist di atas, masih banyak ayat, hadist maupun kisah teladan para sahabat dan tabi’in yang menekankan esensi dari pendidikan anak tersebut. Mengenai point-point pengajaran yang sebaiknya disampaikan dalam mendidik anak, selanjutnya, akan kita simak dalam nasehat-nasehat Luqman sebagai berikut:

Nasihat pertama yang diberikan Luqman terhadap anaknya disebutkan dalam QS Luqman ayat 13.

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Luqman: 13)

Dalam ayat tersebut, dapat kita simak, bahwa Luqman bernasehat terhadap anaknya untuk menjauhkan diri dari syirik atau mempersekutukan Allah swt. Mempersekutukan Allah swt merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni Allah swt, kecuali ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”  (QS An Nisa: 48 )

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan dengan Dia, dan dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”(QS An Nisa: 114)

Inilah pelajaran pertama dan utama yang sebaiknya diberikan kepada anak kita, yaitu mengenai tauhid. Dalam hal ini, bahwa sesungguhnya hanya Allah swt sajalah yang berhak untuk disembah. Allah yang Maha Penolong, dan hanya kepadaNyalah segala urusan diserahkan. KepadaNya pula segala rasa takut dan harap hanya layak ditujukan.

Di era seperti ini, banyak pintu maupun celah yang dapat mengakibatkan timbulnya syirik. Misalnya, tayangan TV atau pun lingkungan sekitar (misalnya, teman-teman anak) yang dapat menjauhkan dari tauhid. Sebagai contoh, film-film untuk anak-anak yang banyak didominasi dengan cerita superhero yang mengisahkan manusia super yang dapat menolong manusia. Meskipun terlihat sederhana, jika orangtua tidak memberikan pemahaman yang benar, si anak mungkin akan beranggapan bahwa ada kekuatan ‘lain’ yang besar selainNya.

Oleh karena itu, sebaiknya, berikanlah pemahaman kepada anak-anak bahwa Allah swt lah yang berkuasa atas segala hal di dunia ini. Tidak ada satu pun kejadian yang terjadi tanpa kehendak Allah swt. Kita dapat menceritakan tentang kebesaran Allah swt dalam menciptakan matahari yang terbit setiap pagi hingga petang dan bulan yang muncul di malam hari. Serta ceritakan tentang tumbuhan dan binatang yang juga diciptakan Allah swt. Semut yang berjalan beriringan, rumput yang tumbuh dan lain-lain. Atau dapat pula, ditanamkan kebiasaan untuk berdoa kepada Allah swt.

Dalam hal ini saya teringat sebuah artikel, yang saya lupa referensinya. Anak-anak pada umumnya sering menanyakan hal-hal baru yang menarik baginya, misalnya, “Kenapa sih perahu bisa mengambang dan berlayar?”. Jika anak bertanya seperti ini, mungkin, secara spontan kita akan menjawab dengan logika atau penalaran ilmiah. Sebaliknya, dalam menanamkan tauhid, kita sebaiknya menjawab bahwa Allah swt lah yang berkehendak menciptakannya demikian. Selanjutnya, baru dijelaskan alasan ilmiah dibalik itu. Dengan demikian, mungkin, sedikit demi sedikit, kita  bisa menanamkan tauhid dalam diri anak.

Selanjutnya, ialah nasehat yang kedua.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14)

Nasehat Luqman yang kedua kepada anaknya adalah perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua. Ibu nya telah mengandungnya dengan keadaan yang semakin bertambah lemah dari waktu ke waktu. Selanjutnya, ibu melahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya serta menyusui anaknya dengan penuh kesabaran untuk beberapa waktu. Diriwayatkan dalam suatu kisah. Pada suatu saat, jama’ah haji padat berthawaf di sisi Ka’bah, matahari saat itu sangat terik dan jama’ah sedang berdesak-desakan. Ada seorang pria dari negeri Yaman menggendong ibunya di atas pundaknya. Peluhnya bercucuran, nafasnya tersengah-sengal. Ia menthawafkan ibunya karena sang ibu lumpuh. Dari kejauhan terlihat Umar radhiyallahu ‘anhu berdiri di sisi Maqam. Dengan bangga pria itu bertanya kepada Umar: “Wahai Umar!, Aku anaknya dan ini adalah ibuku. Apa pendapatmu, apakah dengan cara ini aku telah memenuhi hak ibuku?.” Umar berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, (apa yang kamu lakukan itu, belum dapat menyamai beratnya derita) satu helaan nafas pun dari nafas-nafasnya (saat ia melahirkanmu)”. Selain ibu, ayah pun telah bekerja keras untuk mencari nafkah yang baik bagi anak dan keluarganya.

Pengorbanan dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya bukanlah hal yang mudah meski bukan pula hal yang sulit jika dikerjakan dengan ilmu dan keikhlasan. Sungguh Maha Besar Allah yang telah membuat kehidupan ini sedemikian rupa, sehingga hampir setiap anak akan merasakan menjadi orang tua dan dapat merasakan pengorbanan dan tanggung jawab yang dipikul oleh orang tua. Karena itulah Allah swt pun memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Berbakti atau berbuat baik kepada orang tua nampaknya adalah hal yang sangat mudah dilakukan, namun terkadang secara sengaja ataupun tidak, kita telah berbuat hal yang menyakitkan orang tua.

Like mother like son, suatu pepatah mengatakan. Anak ialah cerminan pribadi orangtuanya. Ketika kita, sebagai orangtua, ingin memberikan pengajaran kepada anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada kita, maka kita pun harus mencontohkan perbuatan baik terhadap orang tua kita sendiri. Tunjukkanlah ketulusan bakti kita terhadap orang tua yang dapat dilihat sebagai teladan oleh anak-anak. Misalnya, menghormati setiap perkataan dan pendapat orangtua kita dengan tidak mendebat langsung atau ungkaplah apa yang kita ketahui dengan cara yang lemah lembut dan tidak menyinggung.

Selain perintah untuk berbuat baik kepada orang tua, dalam QS Luqman: 14 diperintahkan pula untuk bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang Allah swt telah berikan kepada kita serta keluarga.

Nasehat yang ketiga,

(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.(QS Lukman : 16)

Dalam ayat tersebut, Luqman memberikan pelajaran terhadap anaknya mengenai luasnya ilmu Allah swt, ketelitian-Nya, cakupan ilmu-Nya dan peliputannya. Pemahaman mengenai keluasan ilmu Allah swt sebaiknya diberikan kepada anak sejak dini agar ia dapat memahami bahwa segala hal yang dilakukannya mendapat pengawasan dari Allah swt.

Pertama, dalam hal tersebut, kita dapat mengajarkan kebesaran alam semesta ciptaan Allah swt, seperti langit, gunung, lautan, bahkan semut yang kecil sekali pun. Men-taddabur-i alam dan menunjukkan keagungan Allah yang telah menciptakan bumi beserta isinya. Dan Allah swt Maha Mengetahui atas setiap perbuatan mahluk ciptaanNya tersebut. Tiada suatu waktu atau tempat bagi mahlukNya untuk bersembunyi dari pandangan Allah.

“…Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahuiNya…” (QS Al An’am: 59)

Selain itu, kita dapat memberikan kisah pada anak-anak bagaimana Allah selalu melihat hambanya meski hambanya menyembunyikan perbuatan dari orang-orang disekitarnya. Selanjutnya, kita dapat memberikan hikmah pada anak-anak bahwa setiap perbuatan baik yang ia lakukan, bukan hanya dilakukan untuk berbuat baik kepada orang lain, tetapi kebaikan yang ia lakukan itu akan kembali kepada dirinya. Setiap hal yang diperbuat, baik atau buruk pasti akan diketahui oleh Allah. Dan untuk setiap perbuatan akan ada balasannya. Allah akan membalas setiap perbuatan baik dengan kebaikan yang berlipat-lipat, dan Allah membalas setiap perbuatan buruk sesuai dengan perbuatannya.

Itulah tiga pengajaran utama Luqman kepada anaknya. Wallahu ‘alam. Terdapat nasehat-nasehat lainnya yang dapat kita simak dalam ayat-ayat selanjutnya, seperti QS Luqman: 17-19, yang tidak dibahas dalam artikel ini. Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s