Journey into Motherhood

Minggu ke-37: Keluhan dan Syukur

Uh.. oh.. uh.. oh.. uh.. oh.. Hfff.. Napas saya rasanya tersengal-sengal. Padahal, tidak begitu banyak yang telah saya kerjakan selama siang ini. Hanya memasak, membersihkan rumah sekadarnya, mempersiapkan peralatan untuk kelahiran baby nanti dan browsing (hihiii..). Harapannya, saya bisa mengerjakan banyak hal, apalagi menjelang due date. Apa daya, sudah sunnatullah kondisi semakin lemah..

Sambil mengelus-ngelus perut, saya teringat cerita teman-teman saya di Indonesia yang pernah dan yang saat ini sedang hamil sama seperti saya. Beberapa pekan sebelum due date, umumnya, beberapa teman sudah ada yang kedatangan orangtua, terutama ibu, atau kaum kerabat lainnya, untuk membantu pekerjaan rumah atau persalinan nantinya. Mengingat kelelahan yang saya rasakan dan to-do lists yang masih panjang, air mata saya menitik.. (blame also the hormones!)

Hiks! Rasanya, saya iri melihat teman-teman di sana.  Saat kehamilan semakin besar, kondisi terasa semakin lemah, rasanya saya ingin lebih banyak istirahat dan rileks.  Sepertinya, menyenangkan menghabiskan waktu dengan membaca buku dan mengerjakan sedikit pekerjaan rumah di saat-saat menjelang kelahiran (mengkhayal mode ON.. hihiii..). Sebaliknya, saya masih harus bolak-balik mempersiapkan beberapa hal. Eh, bukan berarti suami tidak membantu sama sekali ya.. Suami rasanya bisa mendapatkan penghargaan ‘suami siaga’ soal membantu istrinya yang sedang hamil (hihiii..). Bukan hanya soal mempersiapkan kelahiran baby, tapi ia siap melakukan berbagai pekerjaan rumah yang ia bisa.

Ya, beginilah rasanya jauh dari keluarga dan orangtua.  Hampir segala sesuatunya harus dipersiapkan sendiri. Jujur, saya memang merasa iri mendengar cerita dari teman-teman yang mendapat bantuan dari orangtua atau saudara lainnya. Rasanya enak ya? Bisa lebih rileks dan banyak beristirahat.. Namun, tak lama, saya justru merasa malu.. Dengan pekerjaan yang sedikit saja, saya sudah mengeluh. Padahal, banyak sisters di seberang sana yang kondisinya jauh lebih challenging dibandingkan saya. Setidaknya, di negeri Holland ini, saya bisa merasakan keamanan dan ketenangan. Bagaimana dengan para mujahidah yang hamil di Palestina atau Syria saat ini?? Bukan hanya pekerjaan rumah, saya yakin mereka menghadapi tantangan yang jauh jauh lebih berat. Mereka harus mencari pangan di tengah  minimnya ketersediaan, atau stress maupun kejahatan yang bisa datang kapan saja. Aaaah… Malu rasanya, keimanan saya rasanya jauh (red: jauuuuuuuh) di bawah mereka. (Hiks! 😥 )

Lagipula, kalau dipikir ulang, saya merasakan banyak keuntungannya dengan kondisi kami saat ini. Karna banyak hal yang harus kami kerjakan, saya merasa bahwa saya semakin dekat dan kompak dengan suami. Saat saya butuh bantuan, suami siap membantu (well, kecuali untuk hal-hal yang tidak ia sukai). Saat saya kelelahan, ia siap memijat kaki saya dengan sabar. Bahkan, saat saya kesulitan memakai kaus kaki, ia siap memakaikan kaus kaki (Hihiii.. Love you, hun!). Alhamdulillah.. 🙂 Selain itu, jika nantinya baby sudah lahir (aamiin.. insyaAllah..), saya tidak akan menghadapi banyak intervensi dari orangtua maupun tetangga soal membesarkan dan mendidik anak. Seorang ibu pernah berkata pada saya, “Enak Ki, melahirkan di sini.. Anak tuh benar-benar kita yang ngemong..”. Rasanya benar ya? Membesarkan dan mendidik anak merupakan tanggung jawab penuh kedua orangtuanya, dan rasanya menyenangkan jika kita bisa membesarkan dengan tangan kita sendiri tanpa banyak intervensi dari orangtua maupun lainnya. Eh, bukannya saya tidak membutuhkan bantuan dari orangtua ya namun, bantuan kadang bisa jadi intervensi yang berlebihan. Saya pernah membaca curhatan teman di FB atau mendengar langsung cerita dari seorang teman yang memiliki konflik dengan orangtua soal breastfeeding.

Benar ya, kalau ada istilah yang mengatakan “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”. Memang benar, rumput kita mungkin tidak sama hijaunya, bisa jadi ada yang kuning atau coklat (hihii.. asal deh! ) Well, maksud saya, benar ada kecenderungan dalam diri kita untuk melihat kondisi orang lain lebih baik. Padahal, kenyataannya, setiap kondisi ada ‘plus’nya buat diri kita masing-masing. Yang terpenting adalah menyikapi kondisi itu dengan baik dan tetap bersyukur.. 🙂

Iklan

2 thoughts on “Minggu ke-37: Keluhan dan Syukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s