Mama's PhD Journey

Awal yang Pahit

Aaaah… Senang sekali bisa berada di Delft lagi. After some quite stressful weeks in Toulouse, be here with hubby and Aisha, I feel soooo much relieved! 😀 Sembari menulis ini, saya masih tidak menyangka bahwa saya sudah kembali ke Delft dalam waktu yang relatif singkat.

***

Tiga minggu yang lalu, tepatnya Jumat, 22 Februari 2013,  saya bersama dengan suami dan Aisha meninggalkan Delft untuk terbang ke Toulouse, Perancis. Sebagai kandidat doktoral dari Erasmus Mundus, saya harus melakukan skema mobilitas ke tiga universitas di tiga negara yang berbeda. University Paul Sabatier di Toulouse, adalah host university, universitas tujuan pertama saya. 

Rencananya, Aisha akan saya boyong untuk menemani saya sekolah. Karena itulah, saya sengaja datang seminggu sebelum program doktoral saya dimulai, supaya saya punya waktu lebih banyak untuk settle-down sembari mencari nursery atau nanny untuk Aisha. Suami saya akan membantu proses transisi kepindahan saya selama tiga minggu, setelah itu ia akan kembali lagi ke Belanda karena masih dalam tugas belajar. Begitulah rencana besarnya, tapi… lain dengan kehendak Allah…

Seminggu setelah kami tiba, saya resmi memulai program doktoral saya. Saya mengerjakan urusan administratif bersama profesor saya, rutinitas khas masuk lab di hari pertama. Setelah itu, beliau menjelaskan beberapa topik penelitian yang bisa saya lakukan di lab-nya (which is the hardest part! heheee…). Setelah menjelaskan ide penelitian dari A sampai Z, profesor saya ingin mengajak saya untuk tour keliling lab sekaligus berkenalan dengan rekan-rekan di sana. Sebelumnya, beliau menjelaskan beberapa aturan di lab. Salah satunya ialah mengenai jilbab. Beliau berkata kurang lebih seperti ini, “We still have debate about this rule, actually. But for now, you can not wear veil while working in the lab. You can cover your head (sembari menggerakkan jari-jarinya melingkari kepala), but you can not cover this (sembari memegang leher). Well, you know, this is France (sembari tertawa)”.

Saya kaget, tapi saya masih mengangap hal itu biasa. Saya masih mengira bahwa hal ini tidak serius, sehingga saya bertanya sekali lagi. Namun, jawabannya masih sama. Oh no! This is serious. Mengapa (oh mengapa) profesor saya tidak memberitahu saya mengenai hal ini sebelumnya. Padahal, di foto yang saya lampirkan, jelas saya berjilbab. Mengambil asumsi bahwa saya mengerti mengenai aturan di Perancis tentu-lah hal yang tidak tepat.  😥

Sepagi itu, saya bingung. Saat istirahat siang, saya harus pulang menjaga Aisha karna suami harus menunaikan Shalat Jumat. Saya menangis sepanjang jalan pulang. Saya berpikir berbagi hal, mengenai studi ini, mengenai uang, mengenai suami, mengenai Aisha (aaaah, you know lah, what women are thinking when panic, hehehee…). Ketika bertemu suami, saya langsung bercerita soal jilbab ini dan ia pun menyarankan saya untuk segera mendiskusikan hal ini lagi dengan profesor saya, apakah masih ada kelonggaran atau tidak.

Sorenya, saya bertemu dengan profesor saya mengenai hal ini. Saya katakan bahwa jilbab ini sangat penting untuk saya dan saya tidak bisa membukanya untuk bekerja di lab. Saya memastikan apakah ada kelonggaran atau tidak. Jika tidak, saya ingin pindah ke universitas lain atau mungkin, resign dari program ini. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa memutuskan sendiri, beliau akan mendiskusikan ini dengan direktur lab yang bersangkutan. Sayangnya, hal ini tidak bisa dilakukan segera karna beliau akan berlibur pekan depan (doweng!!), sehingga saya mesti menunggu sampai pekan berikutnya.

Digantung menunggu kepastian rasanya benar-benar tidak nyaman. Namun, saya harus menunggu. Setelah profesor saya kembali dari liburannya, saya mengingatkan hal ini kembali ke profesor saya. Akhirnya, hari Rabu yang lalu, 13 Maret 2013, saya mendapat kabar akhir. Setelah pertemuan dengan direktur lab, profesor saya mengatakan bahwa saya tetap tidak diperbolehkan untuk menggunakan jilbab ketika di lab (whaaaaat?!). Saya kaget  sekaligus lega. Saya kaget, karna setelah saya berdiskusi mengenai hal ini dengan rekan di PPI, saya tahu bahwa ada lab lain yang mempunyai aturan serupa namun pada akhirnya membolehkan jilbab dipakai di lab. Di satu sisi, saya lega dan bersyukur, karna hal ini sudah selesai dan saya bisa pulang, meskipun masih banyak urusan di belakang yang mesti saya bereskan.

***

Dari semua hal yang saya alami, ada kebetulan yang sepertinya bukan kebetulan lagi (bingung ya? hehehee…). Kami membeli tiket return untuk terbang ke Toulouse karna harga tiket return hanya separuh harga tiket one way. Suami saya memang harus kembali ke Belanda. Tapi, di luar dugaan, saya juga mesti ‘hengkang’ dari Toulouse. Dengan tiket yang sudah ada, saya bisa kembali bersama suami (oke, itu sepertinya memang kebetulan 😀)

Namun, pasti bukan kebetulan jika saya mengalami hal ini. Meskipun cerita ini terlihat sederhana, tapi tidak bagi saya. Pengalaman ini membuat saya, sedikit banyak, mempertimbangkan lagi perjalanan ini. Apakah tindakan yang saya ambil benar? Bagi saya, menjaga izzah saya sebagai seorang muslimah tentu-lah penting nilainya. Saya sadar, bahwa ada beberapa orang yang mungkin akan berpikir bahwa membuka jilbab untuk keperluan seperti di atas tidak apa-apa. Namun, jika tujuan besarnya ialah untuk mencari ilmu, apakah hal itu benar? Untuk mencapai tujuan yang baik, mesti-lah dengan cara yang baik. Bukan begitu? 🙂 Lalu, apakah saya harus melanjutkan perjalanan ini? Jika iya, apakah niat saya sudah lurus?  Dan apakah, apakah, seterusnya…

Allah memberikan saya pengalaman ini mungkin sebagai ujian (Allahu’alam…), namun saya bersyukur bahwa di satu sisi, saya mendapat pengalaman yang membuka mata saya dan mempengaruhi sikap saya dalam menghadapi masalah… Ada pula hikmah nyata lainnya. Mungkin, ini rencana Allah agar saya dan suami bisa tetap berkumpul bersama. Mungkin, ini juga rencana Allah agar saya masih bisa bermain-main dengan Aisha (hehehee… :D). Allah Maha Baik, Allah pasti tahu yang terbaik untuk hambaNya bukan? 🙂 Will I continue?? Let’s see! 😀

P.S.:

Untuk seseorang yang telah menemani saya melalui semuanya, terima kasih untuk semuanya! Love and more love for you! 🙂

Peraturan mengenai larangan untuk menggunakan jilbab di universitas maupun lab tidak berlaku di seluruh Perancis yaaa… Jadi, jangan kuatir. Memang ada undang-undang yang mengatur penggunaan simbol-simbol keagamaan di tempat publik, namun implementasinya sangat bergantung pada peraturan institusi masing-masing. Contohnya, seperti yang saya ceritakan di atas, ada seorang muslimah yang sempat dilarang menggunakan jilbab, namun pada akhirnya diperbolehkan. Sayangnya, tidak demikian dengan lab saya. Jadi, jika ingin bekerja atau sekolah di Perancis, dan anda adalah muslimah berhijab, ada baiknya hal ini diklarifikasi terlebih dahulu.

Iklan

2 thoughts on “Awal yang Pahit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s