Parenting Notes

Apa yang Ingin Kita Wariskan untuk Anak Kita?

Pertanyaan ini muncul setelah saya membaca sebuah kisah sederhana di buku mungil berjudul Indahnya Bersyukur, karangan Dr. Khalid Abu Syadi.

Begini kisahnya. (Saya kutip dari buku tersebut, dengan sedikit perubahan)

Pada hari pengangkatan Al Manshur sebagai khalifah, Muqatil bin Sulaiman datang dan menghadapnya di istana. Al Manshur berkata kepada Muqatil, “Berilah aku pelajaran, wahai Muqatil”. “Baginda menginginkan pelajaran dari hal yang pernah aku dengar atau hal yang pernah aku saksikan?”, jawab Muqatil memberi pilihan.  Kemudian, Al Manshur menjawab, “Dari hal yang pernah engkau saksikan.” Selanjutnya, Muqatil pun memulai pembicaraannya, “Wahai Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas orang anak. Ketika ia wafat, ia meninggalkan uang sebesar delapan belas dinar. Kain kafan yang digunakan untuk membungkusnya seharga lima dinar. Tanah tempat kuburnya dibeli dengan harga sebesar empat dinar. Dan sisanya dibagi secara rata kepada anak-anaknya. (Setiap anak mendapat 0.81 dinar). Begitu pula halnya dengan Hisyam bin Abdul Malik, ia dikaruniai sebelas orang anak. Namun bedanya, warisan yang diperoleh oleh masing-masing anaknya ialah sebesar satu juta dinar. Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, pada suatu hari aku dapati salah seorang anak dari Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari itu juga, aku mendapati salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di salah satu pasar”.

Hikmahnya? Setiap kita mungkin bisa mengambil hikmah dan argumen yang berbeda dari kisah di atas. Bagi kami, kisah ini jelas memberi jawaban atas sebuah pertanyaan besar di tulisan ini.

Sejak saya menjadi ibu, kadang saya diliputi rasa kuatir bagaimana kami bisa memenuhi segala keperluan putri kami dan memberikan yang terbaik untuknya. Pendidikan yang bagus, mainan yang bermutu, kesehatan yang baik, harta warisan yang melimpah. SubhanAllah… Jika dibuat dalam daftar, rasanya bisa menghabiskan berhalaman-halaman (heheee…). Apakah itu salah? Saya rasa tidak, saya yakin sebagian besar orang tua ingin membahagiakan anak-anaknya. Namun ternyata, tidak ada yang lebih membahagiakan (bagi dunia dan akhirat) anak-anak kita selain pendidikan aqidah yang baik. Yang dengannya, mereka akan menjadi pribadi yang teguh, yang menjadikan dunia dan seisinya hanya alat untuk mencapai tujuan yang hakiki (hadeeeh beraaattt nian bahasanyaaa…).

Jadi, apa yang ingin kita wariskan untuk anak kita, duhai suamiku? Pendidikan aqidah ialah yang utama, dan jika mampu harta yang cukup juga dong yaaa… (cukup untuk beli tanah, rumah, dan kendaraan… hihihi…) 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s