Parenting Notes

KPA (Komunikasi dalam Pengasuhan Anak) Bagian 2

Bismillaah… Alhamdulillaah, workhop KPA tuntas sore ini… Setelah mengikuti workshop ini selama dua hari, banyak hal baru yang saya pelajari dan bermanfaat… Saya mau lanjutkan ikhtisar workshop KPA sebelumnya (ikhtisar KPA bagian 1) yaaa… Yuks mari, merapaaat… 😀 *** Nah, sebelumnya kita sudah membahas mengenai menerima perasaan lawan bicara kita ya? Ketika anak atau suami atau siapapun lawan bicara kita sedang mengalami suatu permasalahan dan membutuhkan seseorang untuk mendengar keluh kesahnya, kita dapat menggunakan teknik 5D dan BBM yang sudah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya. Teknik 5D dan BBM ini dikenal juga dengan teknik Mendengar Aktif.  Mendengar Aktif (MA) sangat tepat digunakan dalam keadaan ketika;

  1. Anak sedang mengalami masalah dan menunjukkan emosi yang sangat kuat, contoh: “Bunda, besok pokoknya aku tidak mau berangkat ke sekolah. Titik!”
  2. Anak tidak menunjukkan emosi yang kuat namun bahasa tubuhnya dapat ditangkap oleh kita bahwa ia sedang memiliki masalah, misalnya manyun, cemberut, diam, melempar barang, dan lain-lainnya.
  3. Ketika kita ingin menolak permintaan anak, contoh: “Ayah, aku mau mainan mobil-mobilan seperti yang Ali punya, belikan dong Yah”
  4. Ketika kita tidak menerima “ejekan atau cap” yang diberikan oleh anak, contoh: “Huuuuh… Aku benci Ayah, Ayah tidak pengertian! Aku tidak mau lagi bicara sama Ayah!”

Dalam MA, ingat ya… (Sebelumnya tarik nafaaaasss… ) Mendengar, menerima perasaannya dan namakan perasaannya… Jadi untuk contoh-contoh di atas, kita dapat melakukan MA dengan; Contoh no.1 >> Bunda dapat menjawab, “Oooh.. Adik sedang tidak suka sekolah yaaa?” Contoh no.3 >> Ayah dapat menjawab, “Adik suka mainan seperti punya Ali ya?” Contoh no.4 >> Ayah dapat menjawab, “Oooh.. Adik benci dengan ayah ya?” Kalimat-kalimat di atas ialah pembuka dialog untuk mengajak anak berdialog mengutarakan permasalahannya dan mengarahkannya untuk menemukan solusi dari permasalahannya. Sebagaimana halnya “pancingan”, anak bisa saja tidak ingin menjawab, namun bisa juga ia menjawab dan mengutarakan perasaannya. Jika ia tidak menjawab, stop, jangan “todong” ia dengan pertanyaan bertubi-tubi, hal ini justru membuat anak menghindar. Hal ini biasanya malah menjadi penghalang terjadinya komunikasi. Nanti akan ada penjelasan selanjutnya mengenai penghalang-penghalang komunikasi ini yaaa… Dengan MA, kita dapat membantu anak untuk; mengenali, menerima, mengerti dan sadar akan perasaannya sendiri; menemukan cara mengatasi perasaan dan masalahnya; mengekspresikan perasaannya secara tepat sehingga dapat diterima, peduli dan memahami perasaan orang lain, dan belajar menggunakan bahasa respek. MA terlihat sederhana ya, namun MA akan sulit dilakukan jika; hati tidak nyaman (bagaimana kita bisa merespon anak jika hati sedang gundah gulana galau? ihihiii… pasti sulit kan?), terlalu sibuk (waktu sedikit atau kita sedang terburu-buru sehingga tidak sempat merespon anak), terlalu marah (sangat marah sehingga kita sulit menerima pendapat atau argumen anak kita), sedang mempunyai masalah yang belum terselesaikan, dan menggunakan 12 gaya populer. 12 gaya populer, apa itu? 12 gaya populer itu merupakan penghalang atau penghambat komunikasi. Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya. Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Kembali ke 12 gaya populer tadi yaaa… Yuks coba kita kenali apa saja 12 gaya populer itu…

  1. Memerintah, contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”
  2. Menyalahkan, contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”
  3. Meremehkan, contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”
  4. Membandingkan, contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”
  5. Memberi cap, contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”
  6. Mengancam, contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”
  7. Menasehati, contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”
  8. Membohongi, contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”
  9. Menghibur, contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”
  10. Mengeritik, contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”
  11. Menyindir, contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”
  12. Menganalisa, contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Familiar ya dengan gaya-gaya di atas?? (Bangeeet… Tanpa sadar mungkin sudah sering kita menggunakan gaya bahasa yang menyakiti hati anak-anak kitaaa… 😥 ) Selanjutnya, mengapa 12 gaya populer di atas tadi menghambat komunikasi? Karena apa yang kita harapkan dengan apa yang dipahami anak ternyata berbeda… Mungkin tujuan kita baik, mungkin kita ingin memberi nasehat, tapi bukan hal seperti itu yang ditangkap anak… Misalnya, maksud kita memerintah ialah agar situasi terkendali dan masalah dapat terselesaikan, namun yang ditangkap anak ialah bahwa ia harus patuh dan tidak memiliki pilihan. Yang sering tidak kita sadari ialah gaya menganalisa atau menasehati… Misalnya pada gaya menganalisa, maksud hati ingin membantu anak mencari penyebab positif atau negatif pada permasalahan anak agar ia tidak melakukannya lagi, namun yang ditangkap anak ialah bahwa orangtuanya sok pintar atau sok tahu… Atau coba lihat gaya menghibur. Tujuan kita baik karena kita ingin agar kesedihan anak hilang dan ia menjadi senang. Tapi, sesungguhnya itudipahami anak sebagai cara untuk melupakan dan lari dari masalah. Huuuffff… I know how hard it is not to talk in such those ways, kita dididik puluhan tahun dengan gaya komunikasi seperti di atas. Tapi, sepertinya lidah ini mesti digigit kuat-kuat, karena tanpa kita sadari gaya-gaya populer ini dapat membuat anak merasa dirinya tidak berharga. Ketika anak terus menerus dikritik, disalahkan, dicap, dan lain-lainnya, ia akan merasa dirinya tidak berharga dan konsep dirinya menjadi negatif. Coba kita analogikan konsep diri anak seperti halnya kendi tabungan. Ibaratnya mengisi kendi tabungan dengan pundi-pundi emas terus menerus, kendi tabungan kita akan penuh. Nah, sama halnya ketika kita memberi input-input positif pada anak, seperti kasih-sayang, penghargaan, pujian, dan lain-lainya. Jiwa anak akan terisi dengan input positif, konsep dirinya pun positif. Sebaliknya, jika kita memberi input-input negatif, itu sama halnya seperti mengambil atau mengorek-ngorek pundi-pundi emas yang kita tabung, bahkan bisa saja defisit. Ibaratnya seperti kendi kempot. Anak-anak yang dihantam terus menerus dengan caci-maki, kritik, label buruk, dll nya akan kosong jiwanya, dan sangaaaaat mudah terombang-ambing pengaruh orang lain. Sebagai orang tua, tentunya kita tidak ingin kondisi inilah yang terjadi pada anak-anak kita kan yaaa? Lanjut yaaa… Masih ada niiii catatan penting dari workshop KPA hari ini… Kita sudah membicarakan soal perasaan anak, anak dan anak kan yaaa? Memangnya kita, orangtua, tidak punya perasaan juga, kita pasti mau dimengerti juga dong ya?? Orangtua kan pernah capek, pusing dengan urusan kantor, cicilan rumah, mobil, buku (eheheee…) dan lain-lainnya kan yaaa… Nah, jika kita ingin emosi kita dipahami anak karena suatu sebab masalah yang kita alami, kita bisa menggunakan teknik Pesan Saya (PS). Dalam PS ini, kita berusaha menyampaikan emosi kita secara assertif kepada orang lain, misalnya suami, anak atau lainnya. Misalnya, sore hari setelah pulang kerja (pasti capek dong ya?) kita masih harus melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga karena ART tidak ada. Namun, si kakak masih tidur-tiduran membaca komik padahal kamarnya masih berantakan dan pakaian kotornya tersebar di mana-mana (bisa tersulut kan ya tuh esmosinya dalam situasi beginiii…). Kalau kita ingin si kakak memahami perasaan kita dan membantu kita, kita dapat menyampaikannya dengan PS, caranya ialah; PS Tahapan 1:

  1. Sebutkan tingkah laku yang menganggu kita
  2. Sebutkan emosi apa yang kita rasakan
  3. Sebutkan dampak yang diakibatkan karena tingkah lakunya

PS Tahapan 2: Nyatakan hal-hal tersebut dalam kalimat sebagai berikut: “Ayah/Bunda merasa (bla… bla… bla… bla…)Kalau kamu(bla… bla… bla… bla…)Karena(bla… bla… bla… bla…)” Sesuai dengan teknik PS ini, jika kita mengalami situasi seperti contoh di atas, kita dapat mengatakan kepada si kakak, “Kakak, Bunda jengkel melihat kakak membaca komik kalau kamar kakak masih berantakan karna kamarnya kotor dan tidak nyaman dilihat, nak”, misalnya seperti itu. Saya mendapat catatan penting di sini, berhubung saya bawel dan suka ngomong, saya suka menggunakan kalimat yang panjaaaang… Nah, ketika PS, gunakan kalimat sederhana, terutama ketika berhadapan dengan anak laki-laki yang sedang memiliki perasaan negatif, usahakan untuk menggunakan tidak lebih dari 15 kata, karena berdasarkan riset, kemampuan mendengarnya hanya 15 kata! Ingat 15 kata! (Oke, jadi hitung dulu ya sebelum ngomong… Eheheee…) Contoh lainnya, misalnya si adik berjanji untuk pulang dari acara pentas seni tepat jam 10 malam, namun, si adik malah pulang jam 12 malam. Karena kita kuatir, setibanya kita di rumah kita dapat mengatakan, “Nak, Ayah sangat kuatir kalau adik pulang terlambat karena di luar sana mungkin ada orang jahat yang bisa mendzalimimu”. Perhatikan kalimat dalam contoh PS di atas. PS membedakan antara anak dan kesalahan pada perilakunya; menekankan pada perasaan orang tua akibat perilaku anak; tidak membuat anak merasa bersalah, resah atau tersudutkan; ia akan merasa dihargai; ia menyadari adanya konsekuensi atas perbuatannya. Dengan demikian, ia akan belajar untuk mendengarkan dan bekerja sama dan menghormati perasaan orang lain. Hindari menyatakan emosi kita dengan menggunakan 12 gaya populer yang sudah di bahasa di atas. 12 gaya populer di atas, dapat dikenal juga dengan Pesan Kamu (PK), dalam PK, pesan yang disampaikan berfokus pada “kamu”. Jika kita menggunakan PK untuk menyampaikan emosi yang kita rasakan; anak tidak bisa membedakan perilakunya yang salah dengan dirinya, sehingga anak merasa seluruh dirinya salah; ia akan tumbuh dengan dendam dan benci dan menimbulkan perasaan negatif dalam diri anak. Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada catatan penting terahir dari workshop ini. Ketika kita menghadapi suatu masalah, sebelum berkomunikasi, cobalah pikirkan, sebetulnya “masalah siapakah ini??”. Tanpa kita sadari, kita sering sekali mencampur-adukkan masalah. Ketika kita stress menghadapi pekerjaan kantor yang menumpuk, kemudian pulang menghadapi anak yang ingin kangen-kangenan dengan orangtuanya hingga rewel karena tidak diperhatikan. Berhenti sejenak. Siapakah yang sesungguhnya bermasalah? Saya kah? Anak kah? Atau orang lain kah? JIka kita sudah tau mana sebetulnya sumber masalah kita, selanjutnya komunikasikan perasaan kita terhadap masalah tersebut. Yuk kita belajar mengamati masalah dengan beberapa contoh:

  1. Adik rewel karena sepatu yang baru dibelikan kemarin ternyata modelnya sudah lama. Masalah siapakah ini? Orang tua atau anak? Yup, masalah anak. Anak tidak suka dengan sepatunya, ia butuh didengarkan. Kita tidak bermasalah kan dengan model sepatu si anak?
  2. Ayah jengkel melihat anak laki-lakinya masih menonton TV sementara adzan Magrib sudah berkumandang. Masalah siapakah ini? Yup, masalah ayah nya. Ayah yang merasa jengkel. Kakak tidak memiliki masalah karena ia masih happy menonton TV.
  3. Ayah kesal melihat bunda yang diam terus menerus karena ngambek. (Nahhh… Kasus banget yaaaa? Eheheheee..) Masalah siapakah ini? Dimanakah sumber masalahnya? Ayah atau bunda? Yup, masalah utama ialah pada bunda. Bunda sedang ngambek sehingga membuat Ayah jengkel.

Jika kita sudah mampu memilah masalah, kita dapat menggunakan teknik-teknik berkomunikasi yang sudah dibahas sebelumnya. Yuk kita bahas lagi terkait dengan contoh di atas… Contoh no. 1 >> Anak yang bermasalah, anak butuh didengarkan, maka gunakan teknik MA (Mendengar Aktif) Contoh no. 2 >> Kita yang bermasalah, kita butuh didengarkan oleh anak, maka gunakan teknik PS (Pesan Saya) Contoh no.3 >> Bunda butuh di dengarkan, maka gunakan MA. Jika bunda sudah merasa tuntas dengan perasaannya, kemudian ayah bisa mengakhiri dialog dengan PS. After all… (Fiuuuhhh…) Dari keseluruhan ikhtisar workshop ini sedikit yang bisa saya rangkum, namun tantangan besar untuk diaplikasikan. JIka disimpulkan, ketika menghadapi suatu permasalahan sebaiknya kita stop, tahan diri sejenak, gigit lidah untuk mengeluarkan 12 gaya populer yang dapat menyakiti lawan bicara kita. Selanjutnya, tentukan sumber masalahnya dan komunikasikan sesuai dengan sumber permasalahnnya tesrsebut. Jika itu terkait dengan emosi orang lain, maka sebaik mungkin lakukan MA. Sebaliknya, jika itu terkait dengan emosi diri sendiri, maka tuntaskan dengan melakukan PS. Jika terkait dengan emosi kita dan orang lain, selesaikan terlebih dahulu mana sumber masalahnya, kemudian tentukan MA atau PS… *** Alhamdulilllaah, saya diberi kemudahan untuk mengikuti workshop dan menuliskan ini, namun sejujurnya merupakan tantangan besar bagi saya sendiri untuk melakukan semua hal yang saya tuliskan di sini… Semoga catatan-catatan ini menjadi pengingat bagi diri kami sendiri untuk selalu memperbaiki diri… Dan Semoga Allaah beri kemudahan bagi kita untuk menjadi orangtua teladan bagi anak-anak kita… Aamiin..

Abu Sa’īd Khudrī (RA) narrates that a man came to Rasūlullāh ﷺ and said: O Rasūlullāh ﷺ! Advise me. He advised (amongst other things): Protect your tongue except for good. Undoubtedly, by this you will overcome Shaitān. (in Majma-‘uz-Zawaīd, from: http://www.storiesofthesahabah.tumblr.com)

Iklan

One thought on “KPA (Komunikasi dalam Pengasuhan Anak) Bagian 2

  1. Ping-balik: Sabar dan Ilmu | Menjadi Wanita Taat yang Baik Lisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s