Parenting Notes

Meningkatkan Percaya Diri Anak

Bismillaah…

Sebagian dari kita, orangtua, mungkin pernah terbersit pertanyaan-pertanyaan seperti ini…

“Kok anakku ga mau maju ke depan panggung ya?”, atau…

“Kok anakku ga mau datang ke pesta ulang tahun temannya ya?”, atau…

“Kok anakku pemalu ya?”.

Saya ialah salah satunya. Dari beberapa interaksi sosial, putri saya, Aisha, membutuhkan warm-up sebelum mau berdialog dengan orang lain (Saya tidak melabelinya pemalu, meski ya kadang terbersit juga siii, ihihiii…). Pada dasarnya, hal itu bukan sesuatu yang begitu saya kuatirkan karena setiap anak unik. Namun, saya merasa perlu untuk mengetahui what perhaps went wrong. Nah, di seminar inilah pertanyaan saya terjawab, semua hal mengenai percaya diri pada anak dikupas. Sejenak, sebelum masuk ke ikhtisar seminar, kita renungkan bersama situasi ini yaaa…

Mungkin kita pernah (atau sering) diminta untuk mengajarkan sesuatu ke orang lain, entah adik, sepupu, keponakan atau mungkin murid-murid kita sendiri. Mengajarkan sesuatu yang tidak kita kuasai pasti sulit kan ya? Misalnya, kita diminta mengajarkan seseorang cara bersepeda, padahal kita tidak bisa naik sepeda. Kita mungkin saja bisa sekedar memberikan info tentang sepeda, bagaimana mengayuh sepeda, atau hal lainnya, tapi untuk memberikan skill bagaimana mengatur keseimbangan bukan sesuatu yang bisa kita lakukan. Ya, karena kita tidak menguasai skill tersebut. Begitu pun halnya dengan parenting. Bagaimana kita bisa mendidik suatu sikap, kalau kita belum memiliki sikap tersebut? (Huuff… #selfreminder). Ya, terlepas dari soal debatable nurture vs nature, saya yakin bahwa kita sepakat bahwa orangtua ialah role model yang darinya anak belajar. Ketika Bu Elly Risman membuka seminar ini beliau mengajak kita untuk berefleksi, sudahkan kita percaya diri?? Bagaimana kita akan mendidik anak yang percaya diri jika kita sendiri tidak percaya diri?  Beliau selalu mengingatkan akan satu hal: SELESAIKAN URUSAN DIRI KITA SENDIRI, sebelum mengurus anak kita. Jadiii… Ready?? 😀

Apa itu percaya diri (PD)? PD ialah keyakinan seseorang tentang apa yang mampu dan bisa ia lakukanIngat, bahwa keyakinan ini datang dari dalam diri sendiri, jadi PD bukan datang dari penilaian orang lain. Coba sejenak kita renungkan lagi… Apa yang mampu kita lakukan? Apa potensi kita? Pernahkah kita merasa berhasil? Kalau anda bisa menjawab, that’s good! Kalau tidak, nah, ada peran dalam pengasuhan orangtua kita sehingga kita tidak bisa mengenali kemampuan kita sendiri. Dan di sinilah, rantai pengasuhan yang mesti kita potong.

Percaya diri pada dasarnya datang dari harga diri yang tinggi sehingga menimbulkan perasaan mampu. Bagaimana kita, sebagai orangtua, menilai dan menempatkan harga diri kita akan menurun kepada anak-anak kita kelak. Dimanakah harga diri kita berada? LOOKS or VALUES?? LOOKS ialah sesuatu yang tampak pada penampilan, entah itu pakaian, perhiasan, jabatan, gelar, dll. Bu Elly memberikan contoh yang menarik. Kenal pasti kan ya dengan Syahrini ? Well you know, how proud she is with her car and her Hermes collection. Nah, anda pasti bisa menebak dimana letak harga dirinya (Ini Bu Elly ya yang memberi contoh, sungguh bukan saya, ihihiii…). VALUES ialah nilai-nilai yang kita pegang teguh. PD seharusnya terletak pada VALUES.

Bicara soal LOOKS vs VALUES ini, Bu Elly mengingatkan untuk berhati-hati dalam memberikan pujian pada anak. Sebaiknya, hindarkan pujian yang hanya berdasarkan pada LOOKS, seperti “Anak mama, cantik (atau ganteng)!”, namun pujilah anak juga dengan kemampuannya atau skill yang ia miliki. Jika kita hanya memuji LOOKSnya, ketika terjadi sesuatu dengan LOOKSnya, anak bisa hilang rasa PDnya dan tidak bersyukur dengan apa yang ia punya.

Berikutnya, kita akan membahas PD pada anak… Kita mulai ya dengan sebuah kisah tentang kupu-kupu…

Suatu ketika ada seorang ibu dan anak yang mengadakan aktivitas di lingkungan sekitar rumahnya. Ketika itu, si anak tertarik dengan kupu-kupu, dan kebetulan ada kepompong yang tengah tergantung di pohon belakang rumah. Si ibu kemudian membacakan buku-buku dan menceritakan tentang perkembangan kepompong menjadi kupu-kupu. Hal itu tentu saja membuat si anak semakin tertarik untuk melihat perkembangan kepompong di belakang rumahnya. Setiap hari, ia mengamati perkembangan kepompong tersebut. Hari pertama, kepompong itu masih tertutup. Hari kedua, ia lihat ada gerakan pada kepompong itu. Hari ketiga, ia melihat kepompong itu semakin giat bergerak. Hari berikutnya, kepompongnya sudah terbuka sedikit, namun si kupu-kupu belum terlihat. Hari berikutnya, sobekannya semakin besar dan terlihat si kupu-kupu berusaha keluar. Si anak sangat senang, dan ia segera memanggil ibunya. Kupu-kupu itu berusaha keluar dari kepompongnya namun belum berhasil juga, sehingga membuat si anak merasa iba. “Ibu, kasihan ya kupu-kupunya? Dia pasti capek ya Bu?”. Didorong perasaan ibanya, si anak naik ke pohon dan merobek kepompong tersebut, sehingga kupu-kupu keluar. Tak lama, dua hari kemudian, si anak menemukan kupu-kupu tersebut sudah mati di halaman belakang. 😥

Sama halnya dengan kupu-kupu, manusia pun menghadapi setiap tantangan pada setiap tahap perkembangan hidupnya (psycho social crisis). Tantangan tersebut harus dihadapi dan diselesaikan, bukan untuk dihindari. Tugas kita sebagai orangtua ialah membantu anak untuk MAMPU menghadapi tantangan tersebut, bukan membantu anak untuk menghindarkannya dari kesulitan yang justru akan mematikan potensinya. Jika anak dihindarkan dari tantangan, maka self respectnya turun, sehingga PDnya rusak (Bukan hal yang kita harapkan ya pastinya? 😦 ). Sebaliknya, jika anak berhasil menghadapi tantangan, ia akan merasa positif dengan dirinya dan mampu menghargai keberhasilannya, sehingga yakin akan kemampuan dirinya. 🙂

Masih ingat kan ya pengertian PD di atas (Banyak pembahasannya, ahahaa…). PD (atau self confidence, yaitu bagaimana seseorang mempercayai dirinya) datang dari harga diri ( atau self worth, yaitu bagaimana seseorang menilai atau menghargai dirinya). Harga diri ini lahir dari konsep diri (self concept, bagaimana seseorang merasa terhadap dirinya sendiri). Nah, konsep diri ini terbentuk dari omongan orang sekitar yang masuk ke dalam jiwa sang anak (Yuk mari, coba buka lagi konsep diri dan komunikasi di ikhtisar KPA, ihihiii… ). Input-input positif berupa pujian, dorongan, kasih sayang, penerimaan dari orang sekitar memberikan konsep diri yang kuat ibarat kendi yang kencang. Sebaliknya, cercaan, makian, sindiran atau “12 gaya populer” akan mematikan konsep diri anak, sehingga kendi jiwanya kempot. 😥

Oke! Sejauh ini dapat kita simpulkan bahwa PD itu datang dari kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak untuk belajar melalui tantangan sejak usia dini dan juga persepsi yang sehat dari orangtua terhadap anaknya. Selain hal tersebut, ada beberapa hal yang mendukung tumbuhnya harga diri seseorang yang tinggi (atau rendah).

Harga diri yang tinggi lahir dari:

  • Teladan yang baik dari orangtua dalam memecahkan masalah
  • Unconditional love
  • Menerima kelebihan dan keterbatasan anak
  • Authoritative parenting (mis. dengan menentukan target realistis yang bisa dicapai oleh anak)
  • Hubungan yang hangat dan penuh respek
  • Terbukanya kesempatan untuk mendiskusikan peraturan
  • Mendorong keberhasilan pada anak
  • Bertingkah laku yang bermoral

Sebaliknya, harga diri yang rendah datang dari:

  • Teladan yang buruk
  • Sikap orang tua tidak jelas apakah anak berharga atau tidak
  • Menolak atau berlaku abusive terhadap anak
  • Otoritarian parenting (mis. dengan menentukan target yang terlalu tinggi kepada anak)
  • Orangtua inkonsisten
  • Aturan kaku dan tidak membuka kesempatan berdiskusi
  • Suka menjatuhkan dan menganggap remeh anak
  • Bertingkah laku buruk dan mengabaikan moral

Jika harga diri tinggi, maka akan lahir berbagai sikap positif dalam diri anak sehingga ia akan merasa positif, berani mencoba berbagai hal baru, lebih mudah menangani konflik, bertahan terhadap tekanan negatif, mudah bergaul, menikmati hidup dan percaya pada kemampuan (atau optimis) dan mengenali kelemahannya. Bu Elly mengatakan bahwa kepercayaan diri ibarat anak panah yang melesat (Wuuuzzz :D).

Lalu, apa yang bisa orangtua lakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri pada anak? Sebelumnya, kita perlu mengenali tahap perkembangan anak secara umum sehingga kita dapat mendorong tumbuhnya PD pada anak pada tahap perkembangannya.Yuk, kita kenali…

Usia 0 – 2 tahun:

  • Anak mengembangkan kepercayaan dan attachment
  • Kebutuhan anak dikenali dan terpenuhi oleh orangtua atau pengasuh lainnya

Usia 2 – 4 tahun:

  • Anak memulai penjelajahan fisik
  • Anak memulai bermain dan berkhayal
  • Anak memulai berkomunikasi secara aktif
  • Anak membutuhkan untuk diterima dan dipercaya
  • Terbuka kesempatan untuk membangun kemandirian anak

Usia 4 – 6 tahun:

  • Anak memulai penjelajahan intelektual sehingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
  • Anak mulai membangun kreatifitas dan intuisi
  • Anak terpusat pada dirinya sendiri
  • Anak tumbuh sebagai emerging person

Usia pra-remaja, yaitu 6 – 12 tahun:

  • Anak memasuki masa tenang
  • Anak akan menganggap teman lebih penting sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk bergaul
  • Anak mulai memiliki idola di luar rumah
  • Anak mulai merasakan cinta monyet 
  • Anak mulai belajar untuk mandiri secara total
  • Anak akan mengalami jatuh bangun harga dirinya
  • Anak membutuhkan acuan tata nilai yang jelas

Ada sedikit catatan terkait dengan tahap perkembangan tersebut.

Pertama, dalam hal mendisiplinkan anak sejak usia dini, gunakan prinsip “V of love“. Artinya, orangtua harus membuat aturan dan batasan serta membangun adab pada anak sedari dini, padatkan nilai-nilai sejak awal perkembangannya. Bayangkan huruf “V”. Nilai-nilai dan batasan yang diberikan kepada anak terus menerus akan menjadi pondasi yang kuat bagi anak. Semakin besar usia anak, semakin ia berkembang, batasan-batasan tersebut dapat menjadi lebih “longgar”. Bukan justru sebaliknya.

Kedua, memasuki usia pra-remaja, ketika terjadi transisi pada tahap perkembangan anak, anak akan merasakan bahwa percaya dirinya jatuh bangun, tumbuh dan tenggelam. Hal tersebut ialah normal. Orang dewasa, kita pun, dapat merasa demikian. Yang dibutuhkan ialah pendampingan kita sebagai orangtua untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Selanjutnyaaa… Kita akan membahas bagian utama dalam seminar tersebut (Akhirnyaaa… :D).  Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk membangun PD anak?

1. Jadilah ROLE MODEL atau teladan yang baik.

Caranya:

  • Ingat, selesaikan urusan dengan diri sendiri
  • Kembangkan minat dan kekuatan diri
  • Hargai upaya yang kita dilakukan
  • Berpandangan positif
  • Tunjukkan bahwa kita respek terhadap diri kita sendiri
  • Menghargai dan menerima diri
  • Memberi waktu untuk diri sendiri
  • Tunjukkan cinta kepada anak
  • Hargai keunikan anak
  • Bantu anak untuk mengontrol diri
  • Jangan takut untuk melakukan kesalahan
  • Ingat juga, bahwa kita berharga sebagai manusia bukan sebagai orangtua yang sukses (Hmmm…)

Berhati-hati, jika kita menunjukkan ketidak-PD-an, pesimis dan kurang realistis terhadap kemampuan dan kelemahan diri, maka kita menjadi CERMIN bagi anak.

2. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan

  • Segera identifikasi bila konsep diri yang dibentuk pada anak ada yang keliru
  • Perbaiki! Bantu anak untuk fokus pada usaha (effort) bukan hanya hasil (achievement)
  • Setiap anak unik, kadang memang anak tidak mempunyai bakat di bidang tertentu, maka bantu anak mengatasi kekecewaannya dan bantu ia untuk mengenali kekuatan dan kelemahannya
  • Gunakan pendekatan yang hangat dan humoris untuk membantu anak mengenali dan menghargai keunikannya

3. Kenali dan arahkan kepercayaan diri anak yang keliru

  • Kenali kepercayaan diri yang keliru
  • Bantu anak untuk mempunyai penilaian yang tepat dan realistis tentang dirinya
  • Kepercayaan diri yang keliru dapat menjadi kenyataan
  • Bantu anak menjadi realistis dan obyektif, hindari generalisasi (Mis. “Kamu tuh ya semua-semua ga bisa” fatal deh generalisasi sperti ini, anak akan menganggap ia tidak mampu mengerjakan apapun… Duh!)
  • Dalam berkomunikasi, gunakan bahasa yang jernih

4. Spontan dan penuh kasih sayang

  • Cinta merupakan pendorong harga diri dan PD anak
  • Beri pelukan dan penyemangat jika anak menunjukkan usaha untuk memperbaiki usaha yang gagal
  • Cara lain untuk memberi semangat ialah dengan meninggalkan pesan-pesan manis di tempat yang mudah ditemuinya mis, lunch box anak atau dalam tasnya.
  • Dalam menghargai dan memuji, pastikan anda mengatakannya dengan hati dan ingat, jangan berlebihan
  • Pujian yang kurang tepat akan membuat anak merendahkan orang lain dan sombong

5. Bantu dan libatkan anak dalam pengalaman-pengalaman yang berarti

  • Kegiatan-kegiatan bersama akan mendorong terciptanya harga diri dan kepecayaan diri anak mis, pada aktivitas sosial di lingkungan RT atau kerja sosial
  • Himbau keluarga dan teman untuk menghargai anak bukan pada penampilan, namun pada kualitas dirinya
  • Pujian yang diberikan jangan berlebihan
  • Ajarkan pada anak, jika seseorang memuji penampilannya, anak harus berani untuk mengatakan sesuatu yang terkait dengan kemampuannya mis, “Aku pintar masak juga lho, tante!”

6. Berikan masukan yang positif dan tepat

Beri masukan kepada anak yang menunjukkan bahwa orangtua mengenali perasaan anak (Nah, lagi-lagi ini dibahas di ikhtisar KPA yaaa…), menghargai pilihan yang dibuat anak, dan dorong anak untuk melakukan pilihan yang baik dan tepat pada waktu lainnya.

7. Ciptakan rumah yang aman

  • Anak yang merasa tidak aman di rumah akarena adanya kekerasan akan merasa tidak berharga dan tidak PD
  • Kenali tanda-tanda anak korban kekerasan seksual
  • Ciptakan rasa nyaman dengan anak sehingga anak berani dan percaya untuk bercerita tentang apa saja yang terjadi pada dirinya dan jika perlu, bantu anak untuk memecahlan masalah yang ia hadapi

Terakhir, jika kita menemukan atau merasa ada masalah pada PD anak yang tidak bisa kita tangani sendiri, jangan sungkan untuk meminta bantuan profesional.

Baiiikkk… Alhamdulillaah.. Catatan saya tuntas sampai di sini. Mudah-mudahan jelas yaaa… Dan semoga menjadi catatan yang bermanfaat… 🙂 Sebagai penutup, ada sebuah quote  yang dapat menjadi pengingat bagi kita bersama…

Bertanggung jawab dan bangga terhadap diri sendiri adalah tanda-tanda harga dan kepercayaan diri yang sehat. Itulah hadiah terbesar yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya

Semoga Allaah beri kemudahan bagi kita untuk menjadi pendidik dan orangtua teladan bagi anak-anak kita… Aamiin.. 😉

Iklan

2 thoughts on “Meningkatkan Percaya Diri Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s