Parenting Notes

Komunikasi Efektif dalam Pengasuhan Anak

Sebelumnya, saya sudah menulis tentang Komunikasi dalam Pengasuhan Anak di KPA-1 dan KPA-2, sila ke post tersebut untuk penjelasan yang lebih lengkap 🙂 Tulisan saya kali ini lebih berupa ringkasan dari tulisan-tulisan sebelumnya, yang kemudian saya gabung dengan ringkasan seminar yang saya ikuti minggu lalu dengan topik yang serupa. Semoga bermanfaat! 😉

***

Sebelum memulai tulisan ini, khusus bagi pembaca Muslim, mari kita baca (dan renungkan) firman Allaah swt dalam Surat An Nisaa ayat 9:

Dan hendaklah takut kepada Allaah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allaah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Berkaca pada ayat tersebut, telah banyak ahli parenting dan juga ustadz yang menyampaikan tentang pentingnya berkata yang baik dan benar kepada anak. Selain untuk memberi teladan yang baik bagi anak, berkata yang baik dan benar memberikan dampak psikologis yang besar dalam perkembangan anak. Dari komunikasi, anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Selain itu, komunikasi menentukan konsep diri anak (self concept), yang nantinya akan menentukan harga diri (self value) dan percaya diri (self confidence) anak.

Itulah mengapa penting bagi orangtua memahami dan menggunakan komunikasi yang baik serta benar dalam pengasuhan. Baik berarti sesuai dengan perkembangan anak (usia dan otaknya). Benar yang artinya sesuai dengan nilai-nilai agama dan values yang dianutnya. Lalu bagaimana berkomunikasi yang baik dan benar itu? Di sini lah kita akan sama-sama belajar (dan tentu saja, berlatih 🙂 ). Saya membuat visualisasi untuk ringkasan tentang komunikasi efektif dalam pengasuhan anak pada gambar di bawah ini (sila diunduh dan disebarkan jika bermanfaat ;)).

KPA

Hal pertama yang perlu diingat dalam berkomunikasi ialah PERASAAN. Setiap kita memiliki kebutuhan untuk didengar, dikenali, diterima, dimengerti dan dihargai. Begitu pula dengan anak, atau siapapun lawan bicara kita. Sebelum menyampaikan pesan kepada anak, cobalah mengerti perasaannya. Jika perasaan anak diterima, ia merasa aman. Sebaliknya, jika perasaannya tidak diterima, ia akan merasa bahwa seluruh dirinya “ditolak”. 😦

Selain itu, otak manusia dapat lebih mudah menerima informasi dalam keadaan senang (anda bisa mengingat hal ini dengan: “bila hati senang, otak akan menyerap lebih banyak😀 ). Komunikasi yang dilakukan dalam situasi yang menyenangkan, akan lebih mudah diterima oleh anak. Sebaliknya, jika komunikasi dilakukan dalam situasi penuh tekanan, bukan hanya pesan atau informasi yang gagal tersampaikan, kita bisa menyebabkan luka pada jiwa anak kita 😥

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita 🙂 )

1. Jangan bicara tergesa-gesa

Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. So, please… Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. 😛 Berhenti sejenak sebelum bicara. Masalah siapa ini? Need or want? (Akan saya bahas tentang hal-hal ini nanti ya…) Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak! 😀

Selain itu, perhatikan dengan siapa kita bicara, apakah laki-laki atau perempuan. Otak laki-laki dan perempuan berbeda, termasuk halnya dalam komunikasi. Ketika kita berkomunikasi dengan putra, suami, atau siapapun yang berjenis kelamin laki-laki, gunakan kalimat pendek-pendek yang berisi 15 kata. Ingat: untuk laki-laki, gunakan: 15 kata, kemudian berhenti, 15 kata, kemudian berhenti, dst… sebanyak pesan yang ingin kita sampaikan.

2. Ingat: Setiap pribadi unik

Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allaah yang telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

3. Kenali diri sendiri dan anak

Mungkin sebagian besar dari kita banyak yang terjebak dalam rutinitas sehari-hari, sehingga lupa untuk melihat ke dalam diri kita sendiri atau look in (siapa kita, apa kebutuhan kita, apa tujuan kita, dsb.). Jika kita tidak mengenali diri, maka akan sulit menentukan mana yang kebutuhan dan mana yang kemauan. Jika kita tidak bisa mengenali diri sendiri, lalu bagaimana kita dapat mengenal anak atau orang lain ? 😥 Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak kita. Atau, cara sederhana lainnya, buat daftar atau tabel kelemahan dan kelebihan anak kita. Selanjutnya, dorong kelebihannya (bahkan puji ia dengan kelebihannya), dan cari solusi bersama anak untuk menangani kelemahannya.

4. Pahami perbedaan needs dan wants

Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.

5. Pahami “Masalah Siapa?”

Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Anak atau kita? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan anak, atau masalah anak dengan kita. Misalnya, anak ketinggalan PRnya di rumah. Masalah siapa ini? Kita atau anak? Apakah kita perlu mengirimkan PRnya ke sekolah? Atau mengajarkan anak untuk menerima kosekuensi, misalnya di-setrap, akibat ketinggalan PRnya sendiri?

Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Orangtua bukanlah “super problem solver”. Kita tidak mungkin akan selamanya mendampingi anak, ia akan tumbuh besar dan akan tiba waktunya meninggalkan kita. Maka, penting baginya untuk belajar kemandirian, memilih, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pesan yang penting juga untuk diingat dari Bu Elly, jangan samakan keberhasilan anak dengan keberhasilan kita sebagai orangtua dan jangan samakan kegagalan anak dengan kegagalan kita sebagai orangtua. Jangan samakan peran dan harga diri kita sebagai orangtua. #jleeebbb 😦

6. Baca bahasa tubuh

Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

7. Dengarkan perasaan

Masih ingat kan ya? Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainnanya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

8. Dengarkan dengan aktif

Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Jadilah “got” bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.

9. Hindari 12 gaya populer

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic).  Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri. Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:

  1. Memerintah, contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”
  2. Menyalahkan, contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”
  3. Meremehkan, contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”
  4. Membandingkan, contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”
  5. Memberi cap, contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”
  6. Mengancam, contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”
  7. Menasehati, contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”
  8. Membohongi, contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”
  9. Menghibur, contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”
  10. Mengeritik, contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”
  11. Menyindir, contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”
  12. Menganalisa, contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

12. Gunakan “Pesan Saya”

Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:

“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”

Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.

“Pesan saya” memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan “pesan kamu”. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

Langkah-langkah di atas saya visualisasikan dalam gambar berikut (sila diunduh dan disebarkan jika bermanfaat ;))

KPA_Langkah-langkah (ed)

***

Ada sebuah pesan yang saya ingat jelas dari Bu Elly. Anak-anak kita ialah investasi, dunia dan akhirat. Di dunia, investasi yang bukan berupa materi atau uang. Ketika dewasa, anak dapat menjadi penyejuk hati atau dapat menjadi musuh bagi orangtuanya. Hal itu tergantung pada kata-kata yang kita semai ke dalam jiwa anak kita. Jika kata-kata yang kita semai ialah kata-kata yang baik dan benar yang menguatkan konsep dirinya dan mendorong kepercayaan dirinya, ia akan tumbuh menjadi anak kuat dengan jiwa penuh (istilahnya kendi kencang) yang menjadi penyejuk hati kita. Namun, jika kata-kata buruk, 12 gaya populer, makian, cercaan, dsb, bukan tidak mungkin anak tumbuh dengan jiwa yang kosong (istilahnya kendi kempot) yang mungkin saja bisa menjadi musuh bagi kita. Kita memanen apa yang kita semai. How’s true! #jleb

Kita punya pilihan. Saya bisa memilih dan anda pun bisa memilih dari sekarang. Dan terus menerus berlatih dan belajar… Semoga bermanfaat! 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s