Parenting Notes

Pada Siapakah Panduanmu?

Pernahkah mendengar atau membaca kalimat “anak ibarat kertas kosong yang bersih tanpa coretan“? Saya, cukup sering. Dan saya rasa, kalimat ini juga sudah sangat familiar di telinga ibu-ibu yang senang mempelajari parenting.

Tabula rasa, ialah sebuah konsep yang menurunkan pernyataan yang begitu familiar ini. Dilahirkan dari kepala seorang pemikir pada abad ke-17 bernama John Locke. Locke mengatakan, “Let us suppose the mind to be, as we say, white paper, void of all characters, without any ideas: How comes it to be furnished? … whence has it all the materials of reason and knowledge? … from experience” [1]. Ya, Locke, sama seperti pendahulunya Aristoteles, mempercayai bahwa pengalaman lah yang membentuk pengetahuan dan pikiran dalam diri manusia. Pemikiran Aristoteles dan Locke ini dikaji dan diturunkan oleh para pemikir dan pendidik pada masa-masa setelahnya, hingga dikenal dengan aliran empirisme.

Selain empirisme, dunia pendidikan juga mengenal aliran rasionalisme. Rasionalisme berada di kutub yang berbeda dengan empirisme. Rasionalisme yang dipelopori oleh filsuf Plato, guru dari Aristoteles, mempercayai bahwa pengetahuan dan pikiran manusia merupakan sesuatu yang innate atau bersifat bawaan. “Alam” telah mempersiapkan pengetahuan dalam diri manusia untuk bertahan hidup (“alam” begitulah mereka menyebutnya padahal, ada sebaik-baiknya Pencipta #istigfar) . Jadi, rasionalisme mempercayai faktor dalam diri manusia, sementara empirisme mempercayai faktor dari luar diri manusia yang membentuk pikiran dan pengetahuannya. Perbedaan kedua aliran ini berlanjut dari masa ke masa dengan segala turunannya di dalam dunia pendidikan. Perdebatan ini dikenal dengan istilah populer “nature vs nurture” (alam lawan pengasuhan). Apakah yang membentuk pengetahuan atau mentalitas dalam diri anak? Apakah genetis atau bawaan? Atau kah pengasuhan orangtua dan lingkungan sekitar?

Hingga abad ke-20, ketika peneliti telah mampu meneliti otak manusia, barulah mereka menemukan jawaban atas perdebatan yang berlangsung begitu panjang. Otak, tempat di mana pengetahuan diolah, ternyata bersifat luwes, namun tidak berarti elastis. Otak terbagi menjadi beberapa wilayah yang mengatur bagian-bagian tubuh tertentu dan/atau saling bersinergi mengatur bagian-bagian tubuh tertentu. Fungsi kontrol pada otak ini bersifat genetis. Di lain sisi, fungsi tertentu pada masing-masing wilayah otak bisa berubah, menjadi kuat atau melemah, seiring dengan pembiasaan yang terjadi karena stimulan dari luar atau pengalaman yang dialami. Bahkan pada orang yang mengalami cacat, otak bisa mengadaptasikan fungsi tertentu yang spesifik di suatu wilayah ke wilayah otak lainnya. Dari pembedahan dan penelitian otak inilah, komunitas ilmiah akhirnya mengetahui bahwa otak merupakan kombinasi genetis dan pengalaman. Pengetahuan dalam diri manusia bukan hasil dari faktor yang berdiri sendiri.

Mengetahui hal ini membuat saya berpikir… Dunia Barat ternyata memerlukan waktu berabad-abad, mulai dari pemikiran yang penuh dengan spekulasi hingga penelitian dengan teknologi yang muktahir, untuk mengetahui, bahwa kombinasi antara bawaan dan pengasuhan lah yang pada akhirnya membentuk diri kita. Dan, ketika saya terkagum kagum dengan hasil penelitian mengenai otak ini, yang meruntuhkan argumentasi empirist maupun rasionalist… Betapa saya terlupa… Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wassallaam sudah mengungkapkan hal ini melalui lisannya yang mulia, satu abad sebelum Locke menelurkan pemikirannya yang spekulatif dan juga terbukti keliru secara ilmiah… Ahhh.. #istigfar

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhriy telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wassallaam: “Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya“. Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah subhanahu wata’ala QS Ar-Ruum: 30 yang artinya: (‘Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus”). HR Bukhori dalam al-Alamiyah: 1271.

Hadits tersebut menjelaskan, bahwa manusia terlahir dalam keadaan fitrah. Apa itu fitrah? Sila rujuk tafsir QS Ar-Ruum ayat 30 dan syarah hadits tersebut. Saya sungguh sangaaattt jauh dari layak untuk menjelaskannya pada tulisan ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wassallaam sudah menjelaskan bahwa manusia terlahir dengan membawa bawaan yang lurus: menyembah Allah sebagai penciptanya. Namun, fitrah itu bisa saja ternoda karena pengasuhan kedua orangtuanya maupun pengaruh lingkungan lainnya, seperti godaan manusia maupun setan. Jadi, jelas lah bagi kita bahwa manusia itu tumbuh dan berkembang dengan dipengaruhi faktor bawaan dan pengasuhan. Meski demikian, itupun tidak membuat kita, sebagai orangtua, lantas lalai dari bertawakkal kepada Allah. Allah sudah menetapkan garis kehidupan seorang anak apakah ia akan celaka atau kah bahagia. Ma sya Allah… Begitu sempurnanya Dien ini… Ketika dunia Barat tengah sibuk menggali pemikiran, teladan terbaik kita sudah memberikan petunjuk yang begitu gamblang… Sungguh, sebaik-baiknya petunjuk ialah petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wassallaam.

Menyadari hal ini membuat saya malu dan maaf, merasa bodoh… Teringat ketika putri pertama saya lahir. Dengan begitu antusias, saya membaca sebuah buku parenting berbasis penelitian pada otak, berjudul “What’s Going on in There” karangan Lise Elliot, PhD. Saya tertarik membaca buku ini karena tergiur untuk mengaplikasikan parenting berdasarkan hasil penelitian otak terbaru. Dengan latar belakang akademis saya dan suami, perspektif ilmiah selalu membuat kami dengan mudah jatuh hati. Di sela-sela kesibukan mengurus bayi, mengurus rumah tangga, mencari topik penelitian disertasi (yang kemudian tidak jadi dilanjutkan); saya menyempatkan diri untuk melahap buku setebal ratusan halaman itu. Dimana, pada waktu yang sama, sebenarnya saya sudah mempunyai kitab pendidikan anak yang terkenal di seantero Indonesia, “Tarbiyatul Aulad” karya Dr. Nashih Ulwan. Kitab itu telah kami beli sebelum kami memiliki anak, tak lama setelah kami menikah. Bahkan, kitab itu saya bawa terbang dari Indonesia melewati beberapa benua dengan tekad kuat sebagai bekal perjalanan parenting kami. Namun, setelah putri kami lahir, entah mengapa, saya tidak tertarik untuk menggalinya lebih jauh dibandingkan “What’s Going on in There” itu #istigfar. Saya merasa teori parenting otak lebih update, lebih mudah dipahami, dan membumi #istigfarpanjang. Berawal dari sana, saya terus sibuk mempelajari panduan yang populer. Montessori, French Parenting, Chinese Parenting ala Tiger Mom, Gentle Parenting atau parenting berbasis penelitian lainnya. Hingga, ketika kami kembali ke negeri ini, biidznillah, saya giat membaca beberapa buku-buku parenting Islami dan dipertemukan dengan komunitas parenting yang menggali bagaimana Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wassallaam mendidik generasi.

Di situlah kesalahan saya, yang membuat saya malu. Saya menomorduakan panduan yang haq, panduan dari insan mulia yang terbimbing wahyu #istigfar. Saya mengakui Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wassalaam sebagai sebaik-baiknya petunjuk, tapi tidak saya nomorsatukan. Hingga saya membuat tulisan ini, baru saya menyadari bahwa komunitas ilmiah Barat butuh waktu berabad-abad hanya untuk memecahkan misteri bagaimana maunisa tumbuh dan berkembang. Sementara, Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wassalaam sudah memberikan petunjuk yang bisa digunakan melintasi zaman.

Dulu, saya sering sekali diliputi kebimbangan ketika berhadapan dengan sekian banyak argumentasi yang datang dari para pakar (meski sekarang masih kerap bingung, saya berusaha untuk terus menggali dan belajar). Bagaimana saya tidak kebingungan? Saya mengekor parenting berbasis observasi maupun pengalaman yang teori, konsep, maupun tips dan triknya bisa berubah kapan saja sesuai dengan hasil observasi dan pengalaman terbaru. Belum lagi jika dasar teori itu ternyata pseudoscience, seolah-olah ilmiah padahal basisnya sangat lemah. Kalaupun terasa “benar”, berapa sering kita temukan bahwa hasil observasi itu pada akhirnya hanya menjadi bukti ilmiah bagi wahyu? Sungguh, saya malu… Memulai perjalanan sebagai orangtua tanpa ilmu; menyakini teori, konsep, maupun metode yang sangat mungkin keliru… #istigfar.

Apakah mempelajari teori parenting keliru? Tidak, saya tidak mengatakan demikian. Justru dengan mempelajari sesuatu kita jadi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan, ada kebaikan yang bisa dipetik dari teori-teori parenting itu. Namun, yang saya petik sebagai pelajaran ialah ialah…

Pertama, sudah sejauh apa kita (ed: saya) menilik konsep yang ditawarkan oleh berbagai teori parenting itu? Dengan panduan apa kita (ed: saya) mengkritisinya? Ataukah kita (ed: saya) telan bulat-bulat begitu saja? Saya mengerti bahwa kita sepatutnya menyerahkan sesuatu kepada “ahlinya”. Maka, ketika kita berbicara ahli, ahli siapakah yang kita jadikan rujukan?

Ijinkan saya mengambil contoh. Kita mengetahui, dunia pendidikan dan orangtua sudah sangat gerah dengan kebobrokan moral yang melanda generasi muda. Ketika dunia Barat menghadirkan pendidikan karakter karena bobroknya moral pemuda di sana, kita pun silau dengan konsepnya. Namun tahukah? Lawrence Kohlberg yang melahirkan konsep pendidikan karakter itu mati karena bunuh diri. Ironis bukan? Seorang bapak pendidikan karakter mengalami krisis karakter. Dan, bukan hanya beliau, masih ada beberapa contoh ironi lainnya… (na’udzubillaah…). Bahkan, pendidik Barat pun belum bisa mencapai kata sepakat dalam merumuskan nilai pendidikan karakter karena benturan nilai moralitas dan kebebasan yang mereka anut [2]. Misalnya, apakah pemuda pemudi yang melakukan hubungan suami istri sebelum menikah bisa dianggap tidak bermoral? Di lain sisi, menurut sebagian mereka, hal itu nyatanya tidak bertentangan dengan kebebasan yang mereka anut. Lihat, nilai-nilai kebebasan yang mereka anut berbenturan dengan moralitas yang ingin mereka rumuskan dalam pendidikan karakter. Hasilnya? Kebingungan. Dan kita pun pernah latah mencomot pendidikan karakter tanpa meneliti ulang #istigfar. Sekali lagi, saya tidak anti dengan teori parenting Barat. Beberapa buku parenting Barat masih saya simpan dengan sangat baik di lemari buku dan box-box buku karena sungguh ada manfaatnya.

Jika kita mempelajari teori parenting kemudian sudah menilik latar belakang konsepnya, patutlah kita (ed: saya) merenungi kembali… Bagaimana Islam memberikan tuntunan dalam hal yang dikaji? Jika Allah dan RasulNya telah memberikan petunjuk, maka sudah sejauh apa kita (ed: saya) meninggikan dan mengamalkannya? Bukankah kita (ed: saya) yang mengimani al Quran sebagai sebaik-baiknya perkataan dan Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wassalaam sebagai sebaik-baiknya teladan? Kita memiliki panduan yang tak pernah habis digali, seperti mata air yang selalu mengalir… Sudahkan kita gali? Sudahkah kita imani tanpa tapi? Kita memang hidup di jaman yang sungguh sangat teramat jauh dari Nabi, tapi kita tidak pernah kehabisan kitab untuk dikaji… Jikapun tidak mampu, bukankah kita masih punya begitu banyak ulama yang dengan tulus hati membagi ilmu dan membimbing? Teringat saya pada suatu kajian pendidikan yang diisi oleh ustadz Budi Ashari di Setu, Cipayung, hampir dua tahun yang lalu. Beliau mengatakan kurang lebih seperti ini, “Tarbiyatul Aulad itu kitab yang banyak dibaca di Indonesia, tapi banyak yang keliru karena sewaktu dibaca tidak pakai iman. Karena itu, kalau baca kitab pakai iman!” #duh #istigfar.

Duhai jiwa… Bagaimana kabar imanmu? Pada siapakah kau ambil panduanmu? Sungguh, saya malu. #istigfar.

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian“. (QS. Ali Imron: 31).

Surabaya, 7 November 2016
Catatan kecil seorang ibu yang faqir ilmu dan sedang sangaattt berjuang dalam beramal


Referensi:
[1] How People Learn: Introduction to Learning Theories
[2] Isu-isu Pendidikan, antara Problematika dan Konseptualisasi. Jurnal Islamia. Volume IX. 1 Maret 2014.


Disclaimer: Tulisan ini murni hasil pemikiran saya dari hasil pembelajaran di AKU Parenting Nabawiyyah (non-reguler), diskusi dengan beberapa ibu, menyimak kajian parenting di YouTube serta membaca buku. Jika teman-teman menemukan kekeliruan, saya akan amat senang untuk diluruskan. Illa alladziina aamanu wa amilus sholihaat, wa ta wa sowbil haqq, wa ta wa sowbis sobr, wa ta wa sowbil marhamah.

Iklan

2 thoughts on “Pada Siapakah Panduanmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s