Parenting Notes

Mari Merenung

​Beberapa waktu lalu, saya membuat tulisan-tulisan tentang pendidikan dan parenting yang saya beri #marimerenung di lini masa Facebook saya (yaitu, tulisan-tulisan berjudul “Belajar sambil Bermain, Haruskah? ” dan “Pada Siapakah Panduanmu?” di blog saya ini, jika Anda belum membacanya harap baca terlebih dahulu sebelum membaca kedua tulisan tersebut). Tentu, ada hal yang melatarbelakangi tulisan saya tersebut. Di tulisan ini, saya ingin berbagi latar belakang, sekaligus beberapa tautan darimana saya telah (sangat sedikit) belajar. Tulisan kali ini dibuat karena adanya antusiasme sebagian teman-teman yang ingin mengetahui lebih jauh. Karena itu, saya berharap tulisan kali ini dapat menjawab keingintahuan teman-teman serta menjadi argumentasi bagi teman-teman lainnya yang mungkin masih bertanya-tanya (atau, yang mungkin telah keliru memahami) tentang belajar sambil bermain. Untuk mengawali, ijinkan saya sedikit bercerita ya… (note: this is a long post, so please bear with me…).

Sebagai almamater KAUST, terselip rasa bahagia sekaligus gelisah dalam hati saya. Saya bahagia bukan karena kampus itu ialah kampus yang menduduki peringkat besar dunia (semoga suatu hari nanti… aamiin…). Bukan oleh sebab itu. Mengingati hari-hari ketika saya belajar di sana, ada semburat bahagia ketika berjalan melewati gedung-gedung laboratorium besar yang bernamakan ilmuwan-ilmuwan Muslim jaman keemasaan Islam dahulu. Ada gedung bernama Ibnu Sina, Ibnu Khawarizmi, dan nama lainnya yang tidak bisa saya ingat persis. Selain itu, KAUST juga memiliki museum sejarah jaman keemasaan Islam dahulu. Nah, mengapa ada gedung-gedung bernama ilmuwan-ilmuwan Islam beserta museumnya? Saya rasa, itu ialah simbolisasi dari visi Raja Abdullah rahimahullaah yang telah mendirikan KAUST. KAUST didirikan dengan sebuah visi untuk menghidupkan kembali Bayt al Hikmah. Ya, Bayt al Hikmah, pusat keilmuan Islam yang sangat gemilang yang didirikan oleh Khalifah Harun Al Rasyid pada masa dinasti Abbasiyyah. 

Ada bahagia yang menyeruak ketika melihat dan menjadi bagian dari KAUST dengan visi luhurnya tersebut. Namun, ada juga sedikit gelisah yang mengendap. KAUST yang didirikan dengan berbagai fasilitas canggih itu, apakah akan mampu menghidupkan kembali Bayt al Hikmah? Tentu, pertanyaan ini akan melibatkan analisis akan banyak hal. Namun, dari sudut pandang saya yang begitu sederhana, seorang ibu biasa yang bergelut dengan bumbu dapur dan cucian dalam hari-harinya, saya melihat bahwa ada satu elemen yang sangat penting yang luput dari perhatian.

Di KAUST, saya bertemu dengan banyak mahasiswa dan peneliti dari dunia Barat dan Timur yang dapat menikmati fasilitas belajar dan penelitian di sana. Kebanyakan dari mereka yang menempati posisi-posisi utama dalam pengajaran ialah bukan Muslim (saya tidak tahu dengan kondisi saat ini). Ketika membandingkannya dengan Bayt al Hikmah, saya tidak menafikan adanya orang Yahudi maupun Nasrani yang turut menikmati ilmu di Bayt al Hikmah. Selain itu, nyatanya, banyak translator yang non Muslim itu sangat besar jasanya dalam menerjemahkan buku-buku yang berasal dari Yunani dan Romawi untuk ditelaah lebih lanjut oleh ilmuwan Muslim ketika masa itu. Namun, sependek yang saya ketahui, yang menjadikan ilmu-ilmu terus hidup dan berkembang di Bayt al Hikmah ialah para ilmuwan Muslim. Merekalah yang menghidupkan peradaban keilmuan saat itu. Maka, ketika saya melihat KAUST, di situ terdapat elemen terpenting yang luput dari perhatian. KAUST di sini hanya lah sekadar contoh. Namun sejatinya, ada sesuatu yang sangat kita rindukan di jaman ini di segala lini kehidupan. Yaitu, manusia-manusia yang di dalam dadanya ada cahaya keimanan. Yang dengan cahaya keimanan itu, mereka melahirkan ilmu dan amal yang manfaatnya terang benderang menyinari peradaban. 

Peradaban, itulah muara tulisan saya. Dan kita akan berbincang sejenak dan sedikiiittt sekali tentang peradaban karena saya sangaaattt jauh dari layak untuk bertutur tentangnya. Semua Muslim pasti lah merindukan gemilangnya peradaban yang pernah menjadi bagian dari sejarah kita, bukan? Kita, para ibu dan ayah, tentulah memimpikan generasi yang akan mengisi ruang-ruang peradaban mulia ketika kelak fase khilafah akan tegak kembali di atas manhaj nubuwah. Lalu, darimana kita menyiapkannya? Saya yakin, kita semua telah mengetahui jawabannya. Ya, pendidikan (termasuk pengasuhan). Sayangnya, di zaman ini, kita (terutama saya) telah banyak mengadopsi produk pendidikan dan pengasuhan yang banyak berkiblat pada Barat. Mengapa disayangkan? Kali ini, saya akan mengutip tulisan dalam artikel “Itizam dengan Islam” yang dimuat di majalah Karima Edisi 03.

“Kebanyakan yang menjadi rujukan dari model-model pendidikan itu adalah para ilmuwan Barat. Padahal, menurut Syed Naquib al Attas, peradaban Barat telah membuat ilmu menjadi problematis, menghasilkan krisis ilmu pengetahuan berkepanjangan, dan menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia. Hal ini karena jiwa utamanya tidak akan lepas dari pandangan hidup sekuler, materialistik, mengandalkan rasionalisme, mengagungkan humanisme dan ateis. 

Menurut al Attas, ilmu yang berkembang di Barat tidak semestinya diterapkan di dunia Muslim. Memang tidak semua yang dari Barat harus ditolak. Tetapi, tempelan atau pelabelan ajaran Islam atas ilmu sekuler akan memburukkan keadaan dan tidak berfaedah sebab banyak “kuman penyakit”. 

Nah, standar keberhasilan dalam mendidik generasi Muslim adalah melahirkan anak yang shalih, yang membahagiakan orangtua di dunia dan akhirat. Jika ilmu yang menjadi panduan mendidiknya berasal dari orang yang tidak beriman, bagaimana mungkin?” 

Seperti yang saya kutip pada majalah Karima di atas… Apakah mungkin peradaban gemilang, yang berlandaskan wahyu yang suci, bisa dihidupkan kembali dari konsep atau teori yang mengandalkan rasionalitas semata? Apakah mungkin manusia-manusia beriman, yang menjadi elemen penting dari suatu peradaban mulia, dilahirkan kembali dari konsep atau teori yang mengagungkan sekulerisme?

Karena itulah, ketika kita ingin mengembalikan gemilangnya peradaban Islam, tidak lain ialah dengan iltizam terhadap Islam dan ittiba’ kepada panduan Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wassalaam dalam pendidikan dan pengasuhan anak-anak kita. Bahkan, sejatinya dalam segala lini kehidupan. Bagi seorang Muslim, adakah panduan yang lebih baik dari itu? 

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengambil jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya” (QS al An’aam: 153)

“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.” Imam Malik rahimahullaah

Sungguh, saya masih pincang dalam menjalani peran sebagai orangtua. Aahhh… Allah, sebaik-baiknya Robb, yang telah menutup aib dan cacat saya… Bagaimanapun, saya memiliki mimpi yang terucap dalam doa sebagaimana kebanyakan orangtua Muslim lainnya: anak-anak yang kelak menjadi pemimpin bagi kaum yang bertaqwa (ya Rabb bimbing kami…). Anak-anak yang kelak menjadi penopang-penopang peradaban. Dan untuk meraih mimpi itu, sejarah telah bertutur memberikan petunjuknya, bahwa tidak ada jalan terbaik lain yang ditempuh kecuali dengan panduan wahyu. 

Tulisan-tulisan saya merupakan ajakan yang ingin saya sebarkan untuk kita (terutama saya sendiri) untuk memprioritaskan, mempelajari kembali, menggali, dan mengaplikasikan   panduan Nabi… Bukan pula ini berarti ajakan untuk menolak dengan keras panduan-panduan lainnya. Bukan sama sekali. Karena hanya panduan Nabi lah yang terbukti telah melahirkan peradaban gemilang. Tak perlu kuatir kekurangan bimbingan. Banyak asatidz yang telah memulainya dan menghidupkan kembali, banyak pula orangtua yang telah mengambil bagian… Kami, saya dan suami, sangat ingin ikut berada di dalam barisan agar kelak kami tidak tertinggal kereta peradaban ketika peluit lokomotif sudah bertiup panjang… Dan di sinilah, saya mengajak teman-teman… Agar semakin banyak kawan yang dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran… Maukah Anda berjalan bersisian? #senyum

*** 

Jika Anda termasuk yang memberikan jawaban positif atas ajakan saya di atas, Anda dapat meneruskan bacaan berikut, dimana saya akan melampirkan beberapa tautan yang berguna untuk mengetahui konsep di balik tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Konsep, itulah hal yang utama yang perlu diketahui dalam mempelajari panduan apapun. Mengapa perlu? Karena darinya, barulah kita bisa membicarakan metode, tips atau trik, hingga berbagi pengalaman. Karena darinya, kita bisa mengetahui mana yang shohih dan tidak, atau bahkan yang syubhat yang sebaiknya kita hindari. Sayangnya, konsep ialah hal yang asing bagi kita kebanyakan orangtua (terutama saya). Hal ini disebabkan karena memang kita (terutama saya) dalam kondisi yang minim ilmu ketika menjadi orangtua, dan tidak tahu memulai dari mana. Selain itu, ditengah zaman yang penuh dengan hiruk pikuk dan kesibukan, tentulah banyak dari kita (lagi-lagi, saya sendiri) menginginkan yang praktis dan instan yang tersaji dalam berbagai tips dan trik.

Seringnya, kita membicarakan metode atau tips dan trik tanpa mengetahui konsepnya. Padahal, terasa aneh bukan, jika kita membicarakan metode, tanpa mengetahui konsep dibaliknya? Menurut saya,  metode itu ibarat alat. Apakah bisa kita menggunakan alat tanpa mengetahui tujuannya? Seperti, ketika kita ingin memotong daging, apakah bisa kita menggunakan penggaris? Namun, kita (terutama saya), sering abai dengan konsep. Apalagi konsep yang justru datangnya dari teladan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wassallaam sendiri #istigfar. Kita (terutama saya, lagi-lagi) jauh lebih tertarik dengan tips dan trik praktis. Padahal, bisa jadi, tips itu tidak sesuai bagi kita dalam rangka mencapai tujuan. Apalagi jika tips itu ternyata bisa menceburkan ke perkara syubhat (dan ini sungguh ada, semoga lain waktu saya bisa tuliskan yaaa…). Karena itulah, saya ingin mengajak teman-teman sejenak merenungi konsep dan metode pendidikan yang digunakan pada anak-anak kita, bukan mengaplikasikan tips atau trik secara mentah-mentah.

Untuk visi mulia bernama peradaban, seperti yang saya sampaikan di atas, kita akan memulainya dari konsep teladan terbaik kita, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wassallaam. Karena seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tidak ada panduan terbaik selain dari Nabi. Lagipula peradaban Barat sudah terlihat cacatnya. Konsep Nabawiyyah mungkin terdengar dan terasa berat ya? Tapi, sebenarnya tidak. Allah memberikan kita panduan justru karena ingin memberi kemudahan. Cukup kita menyakininya terlebih dahulu. Selain itu, banyak ahli, pakar dan asatidz yang telah menggalinya. Alhamdulilah, kita bisa dengan mudah mempelajarinya melalui buku-buku, artikel-artikel, maupun kajian-kajian di YouTube (semoga tidak pula menjadikan kita kemudian bermudah-mudahan dengan ilmu ya…). Berikut, saya sertakan tautan-tautan yang dapat menjadi awalan untuk kita (terutama saya sendiri) untuk terus belajar dan menggali dari sumber yang haq. 

#1 Konsep Pendidikan

Mengenai konsep pendidikan, saya tuangkan sedikittt sekali dalam tulisan “Pada Siapakah Panduanmu?“. Ada apa dengan pendidikan kita hari ini? Mengapa kita mesti kembali ke konsep Nabawiyyah? Untuk menemukan jawabannya, silakan teman-teman simak kajian-kajian berikut…

Ada Liberal di Pendidikan Kita oleh Ustadz Adian Husaini (Channel al Ghifari Multimedia pada tanggal 7 Maret 2016): 

Pendidikan oleh Ustadz Budi Ashari (Channel al Ghifari Multimedia pada tanggal 11 Oktober 2014): 

Siroh Nabawiyyah sebagai Panduan Kurikulum Peradaban Islam oleh Ustadz Asep Sobari (Channel Akademi Siroh pada tanggal 24 Desember 2014): 

#2 Metode Pendidikan

Mengenai salah satu metode pendidikan, saya juga telah tuangkan dalam tulisan “Belajar sambil Bermain, Haruskah?“. Tentu ini bukan metode satu-satunya. Saya membuat tulisan ini karena melihat begitu besarnya antusiasme ibu-ibu kekinian yang membuat beragam aktivitas bermain untuk putra putrinya (termasuk saya dahulu, ehmmm…). Saya menemukan di beberapa komentar terhadap tulisan itu, ada yang (mohon maaf…) saya rasa telah keliru memaknai belajar sambil bermain. Apakah belajar sambil bermain sama dengan bermain sambil belajar? Saya sendiri seringkali menemukan keduanya dianggap sama. Sependek yang saya pahami, belajar sambil bermain berbeda dengan bermain sambil belajar. Dan bagi saya, keduanya berbeda lagi dengan belajar secara kontekstual. 

Saya akan mencoba dengan memberikan contoh ya… 

Ketika putri saya sedang bermain-main dengan botol-botol cuka, kalau saya tidak salah ingat, ia berhitung jumlah botol-botol itu dengan sendirinya, “Satu… Dua… Tiga…”. Atau, ketika ia bermain dengan bilah-bilah, ia membuat beberapa segi empat, kemudian mengatakan,  “Ama, lihat! Ini ada kotak…”. Menurut saya, itu ialah bermain sambil belajar. 

Di lain kesempatan, saya mengajak A menanam cabe-cabe yang sudah saya keringkan, “Nak, kita tanam cabe yuks! Nah, ini cabe keringnya. Di dalam cabe itu, ada biji-bijiannya, nak. Siapa ya yang akan menumbuhkan biji-bijinya jadi pohon?” Ia jawab, “Allah”. “Ah iya, ma sya Allah… Allah bisa menumbuhkan biji-bijian yang mati ini menjadi tumbuhan yang hidup. Allah Maha Menghidupkan. Hmmm… A tahu ndak nak? Allah bisa juga lho membangkitkan manusia yang sudah mati jadi hidup kembali nanti seperti biji cabe yang kita tanam ini…”. Kalau yang seperti ini, menurut saya, belajar secara kontekstual. Belajar seperti ini sama situasinya ketika anak mengenali bagian-bagian tumbuhan ketika menanam, menimbang bahan-bahan untuk mmbuat kue, memilah-milah pakaian, dan banyak hal untuk dipelajari pada situasi alamiah sehari-hari.

Terakhir, bayangkan suatu situasi di kelas TPA atau TPQ dimana guru mengajarkan santrinya untuk menghafal surat al Kautsar dengan mengatakan, “Tepok al Kautsar (diikuti dengan tepuk tangan)… Makkiyah (diikuti dengan tepuk tangan)… 3 ayat (diikuti dengan tepuk tangan)… al Kautsar, bismillaah… (diikuti dengan membaca al Kautsar)”. Atau, sama seperti contoh tsb, bayangkan suatu situasi dimana guru TK mengajarkan seorang anak membaca huruf latin dimana dilakukan sambil anak bermain ayunan. Saya yakin, teman-teman tahu contoh-contoh yang terakhir ini masuk kategori yang mana. Tentunya berbeda dengan kedua contoh yang saya sebutkan sebelumnya bukan? 

Mengenai belajar sambil bermain, Ustadz Fauzil Adhim melalui channel Telegramnya pada tanggal 3 Februari 2016 pernah menyampaikan, 

“Jika anak memiliki adab dan antusiasme belajar, di usia dini ia bermain sambil belajar. Tiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Tetapi jika anak hanya memiliki kemampuan, sementara antusiasme tak terbangun, sudah usia sekolah pun ia masih cenderung belajar sambil bermain. Sekilas sama, tetapi sangat berbeda antara bermain sambil belajar (ia berusaha belajar bahkan di saat bermain) dengan belajar sambil bermain (bahkan di saat seharusnya belajar pun, ia masih main-main). Bagaimana dengan anak-anak kita? Bagaimana dengan siswa-siswa kita?”

Terkait dengan penjelasan ustadz Fauzil di atas dan penjelasan asatidz dalam video-video YouTube yang akan saya lampirkan kemudian, belajar sambil bermain tidak sama dengan bermain sambil belajar. Dalam bermain dan mainan, terdapat pelajaran atau manfaat yang bisa dipetik. Apalagi, dengan adanya mainan yang berlabel edukatif, semakin banyak muatan positif dalam permainan dan mainan yang tersedia saat ini (meski saya sendiri sekarang cenderung selektif memilih mainan edukatif untuk anak-anak kami). Saya tidak pernah menolak argumen bolehnya bermain dan permainan, karena bermain dan permainan memang sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak (silakan baca selengkapnya di resume “Kurikulum Pendidikan Anak Usia 4-6 tahun” di blog saya: https://ourlittlenotes.wordpress.com/2016/05/14/kurikulum-pendidikan-anak-4-6-tahun/). Nah, kalau belajar sambil bermain (atau, main-main) bagaimana? Terutama, dalam situasi belajar terhadap ahli ilmu atau guru. Nah, silahkan teman-teman simak kajian-kajian berikut untuk menemukan jawabannya…

Kitab Tarbiyatul Athfal fii Hadits Syarif Bab Permainan Anak dalam Islam oleh Ustadz Budi Ashari (Channel Akademi Siroh pada tanggal 23 Desember 2014): 

Fikih Pendidikan Anak: Mainan dan Permainan untuk Anak oleh Ustadz Abdullah Zaen (Channel Yufid TV pada tanggal 10 Desember 2015): 

Cara Mendidik Anak Islam yang Bekualitas oleh Ustadz Budi Ashari (Channel LKG PTQ pada tanggal 24 Februari 2015): 

Selain kajian-kajian di atas, saya menemukan hal yang menarik… Kita sangat sering menemukan argumen atau teori-teori tentang “gaya belajar” pada anak. Salah satunya, ada yang menyatakan bahwa ada anak-anak yang kinestetik, sebagian lagi ada yang visual, dan sebagian lagi ada yang audio ketika anak belajar. Sayangnya, teori gaya belajar ini menjadi pemakluman, bahkan landasan, bahwa anak-anak usia dini, terutama yang kinestetik, tidak bisa tidak belajar secara aktif (atau kadang perlu sambil bermain atau bergerak). Padahal, tahukah Anda? Bahwa teori-teori tentang gaya belajar, termasuk kinestetik, visual dan audio, dipertentangkan oleh sebagian komunitas psikologi bahkan diakui sebagai mitos. Silahkan baca buku “50 Great Myths of Popular Psychology” oleh Lilienfield et. al. untuk selengkapnya (saya sangaaattt merekomendasikan buku ini untuk dibaca). Saya tidak menafikan bahwa kita memiliki kecenderungan dan kemampuan masing-masing untuk memahami suatu pelajaran atau ilmu. Selain itu, saya juga tidak menafikan kebutuhan pendidik untuk sesekali berinovasi dengan metode pengajaran seperti penggunaan teknologi. Namun, ketika kita menganggap bahwa teori gaya belajar mutlak benar, bisa jadi karena kita percaya begitu saja pada “ahli”nya, bukankah hal itu bisa menjadi celah pemakluman dimana anak “kinestetik” dianggap perlu belajar sambil bergerak? Hmmm…

Kembali kepada pembahasan mengenai konsep. Ketika kita ingin mengaplikasikan metode pembelajaran, renungkan, adakah metode itu mendekatkan kita pada tujuan? Bagaimana konsepnya? Dalam kasus metode belajar sambil bermain misalnya, apakah benar melalui bermain dapat membuat belajar menjadi menyenangkan? Jangan-jangan kita hanya mengandalkan alat, tapi melupakan esensi belajar… Eitsss, belum lagi menyoal adab belajar. Silakan teman-teman gali jawabannya melalui artikel berikut…

Menjadikan Belajar sebagai Kebutuhan Anak oleh Ustadz Fauzil Adhim, Majalah Hidayatullah, 14 Juli 2010: http://majalah.hidayatullah.com/2010/07/menjadikan-belajar-sebagai-kebutuhan-anak/

Perlu Alasan untuk Belajar oleh Ustadz Fauzil Adhim, Majalah Hidayatullah, 8 Maret 2011: http://majalah.hidayatullah.com/2011/03/perlu-alasan-untuk-belajar-2/

Pilar itu Bernama Adab oleh Ustadz Fauzil Adhim, Majalah Hidayatullah, 3 Juli 2012:  http://majalah.hidayatullah.com/2012/07/pilar-itu-bernama-adab/

Mengawali Ta’dib oleh Ustadz Fauzil Adhim, Majalah Hidayatullah, 12 Juli 2012: http://majalah.hidayatullah.com/2012/07/mengawali-ta’dib/

Mengajarkan Adab pada Murid oleh Ustadz Fauzil Adhim, Majalah Hidayatullah, 5 September 2012: http://majalah.hidayatullah.com/2012/09/menegakkan-adab-pada-murid/

Dalam tulisan-tulisan di atas, ustadz Fauzil menekankan pada proses belajar di sekolah, namun sangat relevan untuk diaplikasikan di rumah.

#3 Tokoh Pendidikan

Konsep maupun metode tentu tak bisa dilepaskan dari tokoh yang menelurkannya bukan? Sebaliknya, ilmuwan Barat mengklaim bahwa ilmu itu netral, tidak bergantung pada individu yang mengagasnya. Padahal, tidak. Ustadz Adian Husaini mengatakan bahwa ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial yang berkembang di Barat, tidak mungkin netral atau bebas dari nilai yang dianut oleh penggagasnya. Karena itulah, kita perlu meneliti ulang konsep maupun metode yang akan kita gunakan.

Bukan hanya mengenai nilai, namun juga menyoal adab (dan ini sangat penting). Karena peradaban Barat menganggap ilmu itu netral, tidak masalah mengambil ilmu dari siapapun, apapun latar belakangnya. Pernah mendengar nama J.J. Rousseau? Beliau dikenal sebagai pakar pendidikan karena telah menelurkan ide-ide pendidikan yang sangat menarik pada masanya melalui bukunya, “Emile“. Padahal, nyatanya, ia tidak pernah mendidik anak-anaknya sendiri. Ironisnya, (maaf…) anak-anaknya justru dibuang ke rumah sakit (sebagian ada yang mengatakan ke panti asuhan), setelah anak-anak itu dilahirkan. Trauma pendidikan masa kecil yang dialami Rosseau menjadi argumen mengapa ia membuang anak-anaknya tersebut. Tentu saja hal ini sempat menuai kritik, layakkah ia disebut sebagai pendidik? Kiranya Anda bisa jawab sendiri ya… 

Selain Rosseau, ada nama ahli pendidikan yang sangat akrab di telinga kita belakangan ini: Maria Montessori. Kita mengenalnya dengan ragam aktivitas hands-on learning atau belajar sambil bermain, dsb. Tahukah Anda? Ada sedikit kesamaan antara Rosseau dengan Montessori, namun dengan latar belakang dan motif yang berbeda. Montessori diketahui membuang anak satu-satunya, meski memang di akhir hidupnya ia membuka tabir mengenai anaknya tersebut (silakan baca selengkapnya “The Maria Montessori No One Knows“:  http://www.ourkids.net/school/the-maria-montessori-no-one-knows). Coba sejenak renungkan, dengan pertanyaan serupa bagi Rousseau, adakah kiranya layak kita mengambil konsep pendidikan darinya (meski Montessori dikenal sebagai wanita luar biasa karena pernah tiga kali dinominasikan sebagai peraih Nobel)? Maaf, saya harus jujur, bahwa Rosseau dan Montessori hanya beberapa contoh ironi yang kadang pun menuai kritik dari komunitas pendidik. Namun, inilah kenyataan yang berkembang pada peradaban Barat. Inilah yang dimaksud dengan penjelasan Professor al Attas yang saya kutip dari Majalah Karima di atas. Peradaban yang cacat. Bandingkan dengan keilmuan Islam, tidaklah seorang layak menjadi guru dan pendidik, yang dapat diambil ilmunya, kecuali terbukti adab dan amalnya. Ahhh… Betapa saya rindunya dengan peradaban itu…

Apakah itu artinya mengambil manfaat dari konsep Barat itu terlarang? Hmmm… Jujur, saya tidak tahu. Kalau saya sendiri, saya kuatir bahwa prinsip “ambil yang baik, buang yang buruk” terkadang bisa menjerumuskan jika kurang berhati-hati. Selain itu, berbeda halnya dengan produk teknologi, produk pemikiran pada konsep-konsep pendidikan tidak akan pernah bebas nilai. Saya sendiri, sesekali masih menggunakan mainan maupun media belajar yang bersinggungan dengan metode pendidikan Barat. Namun, mengambil dan mempercayai filosofi pendidikan Barat sedapat mungkin saya hindari, apalagi jika saya tidak tahu latar belakangnya. Lagipula di atas semua konsep dan metode itu ada yang lebih penting dalam ilmu, (sekali lagi) yaitu iman dan adab. Sebagai bahan renungan terakhir, silakan teman-teman rujuk artikel berikut ya…

Nilai Penting Adab dalam Ilmu oleh Ustadz Ahmad Kholili Hasib, 24 November 2016 di inpasonline.com: http://inpasonline.com/new/nilai-penting-adab-dalam-ilmu/


Tak ada lagi yang bisa saya catat sebagai penutup… Ini ialah catatan perenungan (terutama untuk kami sendiri) yang belakangan ini mendesak-desak di kepala dan menggelisahkan hati kami, dalam usaha untuk mencari format pendidikan terbaik bagi buah hati kami. Merenungi, karena kami ingin mengilmui sebelum mendidik. Ilmu, ilmu, ilmu sebelum amal… 

Semoga catatan ini juga bermanfaat sebagai bahan perenungan bagi teman-teman yang ingin mempelajari… Tentulah segala kebenaran datangnya hanya dari Allah. Segala sesuatu yang keliru datangnya dari saya yang sangaaaatttt lemah dan bodoh ini… Mohon teman-teman sudi mengingatkan jika ada kekeliruan ya… 

Wallaahu’alam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s